Selamat Tahun Baru dan Selamat Datang MEA

 

 

happy-new-year-2016-wallpaperBagaimana tahun baru anda? Seronok? Gempita? Beragam perayaan yang bisa kita saksikan sebagai symbol penyambutan tahun yang baru. Mulai dari perayaan artificial sejenis terompet, kembang api, lampu pijar dan sorak sorai menyambut awal hari yang bisa jadi para penyambutnya ini memulai dengan bangun kesiangan setelah konvoi atau nobar semalam suntuk. Awal yang bagus untuk memulai? Bisa jadi, sebab hanya terjadi setahun sekali ketika kantor membolehkan masuk setengah hari. Di lain pihak, ada juga yang sejak jauh hari telah menyiapkan rentetan tulisan berupa resolusi untuk dicapai di tahun yang baru. Seperti awal dari semua hal, para pembuat resolusi yakin dan senang menyambut suatu “awal” dimana banyak impian bisa lagi diprogreamkan untuk diwujudkan dalam satu putaran tahun yang akan berjalan. Tidak ada yang buruk dari membuat resolusi, bahkan tulisan di secarik kertas atau angan-angan ini mampu membangkitkan semangat untuk kembali lebih produktif dan meningkatakn kualitas hidup. Sejatinya seperti itu bukan tujuan kita membuat resolusi, bukan hanya sekedar tulisan untuk menghapus target tahun lalu yang belum sempat terlaksana atau bahkan justru menambahi eban hidup kita.
Lantas, apa rencana baru anda di awal tahun yang baru? Bisa jadi, punya pasangan hidup yang baru, mobil baru, rumah baru, atau masih menambal sulam resolusi tahun lalu “untuk hidup yang lebih baik”? tidak masalah, sebab tidak semua hal harus dicapai seluruhnya dalam satu tahun. Karena bagi saya sendiri, resolusi tahun ini adalah kelanjutan dari proses hidup tahun lalu. Apa yang belum selesai diselesaikan, apa yang masih jauh dikejar lagi. Namun jika tidak ingin tergeser atau bahkan tertinggal di lomba marathon ambisi, tahun ini sebaiknya kita mulai bersegera. Sebab apa? Di tahun 2016, Indonesia telah membuka pintu perdaangan bebas untuk kawasan Asia Tenggara yang selanjutnya kita sebut sebagai MEA (Masyarakat Ekonomi Asean/Asean Economic Community), dimana salah satu indicator penting dari MEA adalah perdagangan bebas di Negara-negara yang ada pada satu kawasan dan berkembangnya masyarakat yang mandiri terutama secara ekonomi. Bisa kita bayangkan bagaimana strategisnya Indonesia sebagai pangsa bagi industry dari Negara-negara tentangga yang luas wilayah dan jumlah penduduknya belum menandingi Indonesia. Diperkuat lagi dengan dihapuskannya non-zero tax untuk Negara yang meratifikasi hasil pertemuan di Malaysia akhir tahun 2015 yang lalu, tentu harga barang yang beredar akan bisa lebih murah. Salah satu keuntungan di pihak Indonesia memang adalah jumlah penduduk yang tinggi sebab akan meningkatkan arus perputaran uang dengan adanya berbagai pembelian, tapi jika tidak diimbangi dengan produktivitas yang sama, tentu bukan indikasi yang baik.
Salah satu tujuan dibukanya MEA adalah tentu saja untuk meningkatkan pertumbhan ekonomi di Negara-negara satu kawasan yang salah satu caranya memang harus dengan “paksaan” untuk berani berkompetisi. Disemu abiding, Indonesia tidak boleh segan dan harus mulai berani untuk mengandalkan produk dalam negeri. Misalnya untuk pangan, mungkin diversifikasi pangan pokok bisa dimulai tidak hanya di Indonesia bagian timur agar kita tidak lagi terlalu bergantung pada impor beras. Kemudian di sector kelautan misalnya, selain penegakkan hokum laut tentu masyarakat pesisir juga sangat membutuhkan agen distribusi hasil laut yang sehat dan mampu menawarkan harga beli hasil tangkapan yag dapat membantu kesejanteraan para nelayan. Struktur dan infrastruktur perlu lagi dibenahi, serta tidak lupa sumber daya manusianya. Bayangkan jika pemerintah sudah menggelontorkan milyaran rupiah untuk memeperudah jalur distribusi tapi masih saja ada oknum lintah darat, bagaimana?
Tidak perlu takut untuk bersaing, Orang lama bilang “the power of kepepet” itu tidak bisa diabaikan. Bayangkan kita begitu kepepetnya tapi harus bisa beli ini dan itu, bisa meraih ini dan itu, tentu menabung bukan solusi tapi bagaimana membuat putaran uang menjadi pusaran yang lebih besar bisa jadi jawaban. Memulai atau mengembangkan usaha adalah solusi efektif di tengah krisis. Semakin hebat tekanannya, maka semakin handal seorang melakukan pengendalian diri dan memicu setiap lobus di otaknya untuk memunculkan ide kreatif yang harus segera dieksekusi. Intinya, jangan takut sebelum memulai. Jangan malu juga. Bersemangat. Sebab siapa yang semangatnya paling besar , sebenarnya telah memenangkan pertadingan sebelum start.

Advertisements

Refleksi Sederhana –calon- Orangtua

baby and mom

Terlampaui sudah tri mester pertama yang melelahkan dari jatah 9 bulan 10 hari masa mengandung manusia. Hampir menyentuh 6 bulan di 2 minggu ke depan. Tidak bisa melihat setiap hari memang, sebagaimana seperti yang saya suka tonton di film dokumenternya BBC tentang human birth, betapa ajaibnya dua sel yang secara kontinyu di produksi manusia dewasa (yang jika tidak terjadi pembuahan hanya berakhir di tempat pembuangan semata) mengalami tahapan menakjubkan ketika lebur menjadi satu. Tidak mungkin tidak, setiap perempuan yang mengalami masa kehamilan tidak berkeinginan meraba dan merasa apa yang tengah terjadi di alam di bawah kulit perut yang menjadi semesta awal bagi semua pengetahuan yang akhirnya akan dicapai seorang manusia. Di dalam rahim, seperti sup nebula di jagat raya, proses-proses indah dari hanya dua inti terkecil manusia yang bertemu bisa menjadi milyaran sel yang akhirnya menjadi jaringan dan organ-organ yang secara sangat ajaib bisa mengkoordinasikan diri menjadi keutuhan, menjadi tempat menyimpan semua pengalaman, serta menjadi sebuah pergerakan baru yang nyata diantara manusia lainnya.
Orang bilang, manusia kecil ini mulai semakin terasa dan semakin nyata kehadirannya di dunia setelah bulan ke empat. Tepat setelah beberapa organ vital dasar yang dibutuhkan manusia mewujud sempurna sesuai fungsinya. Lalu, secercah pengetahuan yang dibagi lewat dunia maya juga memberi tahu perempuan tanpa pengalaman ini bahwa manusia kecil yang dia bawa di dalam rahimnya mulai mendengar dan bereaksi ketika usia 6 bulan. Dan sampai saatnya tiba, saya rasa saya semakin bisa merasakan bagaimana dia bukan lagi entitas asing dari dua sel kasat mata melainkan manusia yang bergerak, merespon, dan mulai mempunyai keterikatan paling sederhana dengan saya sebagai sesama manusia. Sebagai ibu dan anak tentunya.
Menjadi Ibu. Begitu seharusnya tajuk tulisan ini saya buat. Isinya long-listing-everything-needed dalam melakoni peran baru yang –insyaAlloh-akan tiba dengan lebih nyata. List ini jika ditulis mungkin akan sangat panjang dan perlu banyak sekali kolom-kolom untuk memisahkan jenis-jenis persiapan menjadi ibu. Tapi saya tidak pandai membuat list semacam list blanja yang akan disetor ke suami atau harus dilakukan secara rutin. Termasuk sepertinya untuk keperluan pasca melahirkan. Lantas, yang akhirnya saya coba jangkau adalah apa-apa saja yang sekiranya terjangkau pikiran saya. Lalu payahnya Cuma ada dua: materi dan yang selain materi.
Banyak sudah liteartur yang membahas tentang keduanya, baik secara gamblang maupun tersirat. Jadi kalau ingin melihat detail apa saja yang membahas tentang keduanya, sangat mudah, semudah menekan sekali atau dua kali klik. Tentang materi, begitu terlahir satu manusia, seolah-olah semua pabrik penyedia barang kebutuhan manusia baru sudah bersekongkol untuk membuat paket kebutuhan itu memang harus ada (baca: harus dibeli) dan harus dipersiapkan. Benar memang, tapi kalau kemudian membuat kita bertekuk lutut pada konsumerisme atas nama rasa cinta dan kasih sayang ke anak, apa masih baik? Yaah silakan dijawab sendiri yaa… 🙂 Jelasnya, tidak ada kekuatiran tertentu pada diri saya mengenai kebutuhan-kebutuhan ini, selama ini memang kebutuhan lho yaa… bukan yang dibutuh-butuhkan.
Membayangkan cerita orangtua saya yang waktu saya lahir belum punya pendapatan tetap yang memadai sehingga hanya berbekal tekad untuk melahirkan anak dan uang seadanya pun tetap bisa memberikan nilai lebih selain selimut lembut berharga mahal yang tidak pernah ada dalam cerita. Bapak waktu itu pun tidak membawa sehelai kain untuk berjaga-jaga. Akhirnya, proses melahirkan saya benar-benar sangat sederhana. Termasuk kemudian cerita Bu lek dan Mbah yang membantu pengasuhan. Jauh dari kesan mewah dan mahal. Secara waktu itu penghasilan rutin Bapak adalah dari sukwan di SMP dan ibu masih membantu orangtuanya mengolah sawah. Saya yakin, Ibu saya sampai sekarang tidak tahu ada benda bernama stroller. Perlengkapan bayi ala Beliau hingga sekarang masih setradisional gedong, guritan, popok kain dan jarik warna merah berbatik naga. Sesederhana itu kira-kira barang kebutuhan bayi yang saya pelajari.
Lain lagi kalau membahas yang non-materi. Ini seperti menelan pil pencahar. Bisa mulas kalau tidak menemukan jalan keluar yang memang tidak “segampang dan segamblang” melahirkan itu sendiri. Belakngan saya mulai membatin dengan manusia kecil di dalam rahim. Apakah mengajarkan kebaikan saja sudah cukup untukmu kelak? Atau kamu mau belajar lebih ber-agama? Apa yang membuatmu berkecukupan untuk menjadi manfaat bagi semesta dan bagi sesama? Cukupkah kasih sayang dan cinta itu sendiri sebagai bekal? Ataukah sya harus membekalimu dengan hal-hal logis dulu sambil menyuapi dengan kasih sayang? Saya pernah punya kekuatiran berlebih soal memandikan bayi baru berusia hari, mengurusnya sendiri dan membuat perawatan di hari-hari awal pasca persalinan telah benar. Tapi itu tidak seseram ketika berpikir tentang nilai hidup mana yang akan saya pelajari bersama dia.
No defense. Cuma bicara jujur di tulisan ini. Mungkinkah saya mengajarkan dia seperti saya mengajari diri saya sendiri tentang nilai? Berjalan, berputar, tersesat, kembali ke titilk nol, dan mulai lagi? Seperti siklus meski pada setiap nilai mengajarkan kebaikan. Atau mungkin, kembali ke satu agama yang utuh adalah pencerahan? Seperti yang selalu saya dambakan. Iya, kembali melakoni dengan utuh islam sebagai agama juga nilai yang saya pilih sendiri (lepas dari memang saya dilahirkan di keluarga islam), sehingga kelak jika pun manusia kecil ini memilih jalan lain dia masih punya rumah untuk selalu pulang.
Kemudian, siapkah saya dan suami dengan jalan ini? Memaksa diri untuk bisa, lebih baik dari pada menghindar karena takut akan suatu komitmen, bukan? Kita memilih menjadi orang tua tapi kita tidak memilih untuk bertanggungjawab. Agama bukan jalan yang mudah dan murah, kita coba mulai dengan ikhlas yaa…
P.S Ibu dan Bapak menunggumu manusia kecil penggemar music patrol ala ramadhan.

 

SARDEN DALAM KALENG

Kejutan kecil hadir di pernikahan kami yangbaru seumur jagung. Tidak terbayang rasa lelah yang tidak terlalu diperhatikan akhirnya menggerogoti kekebalan fisik kami berdua. Jatuh sakit di waktu yang bersamaan. Setelah sehari yang terasa terlalu panjang dan melelahkan, akhirnya kami hanya saling pandang tanpa kuat membelai atau menggosoki punggung masing-masing dengan cairan kayuputih. Tidak ada ucapan kata apa pun, kami sudah tidak berkeinginan pada seduhan the panas atau bahkan saling mengahangatkan. Malam itu, Cuma ada senyumnya—sehyum kecil yang aku tahu pernah dikagumi banyak perempuan—dan rasa syukur bahwa kami berdua masih bisa pulang. Meski tidur dengan nyeri punggung dan terbangun berkali-kali dalam satu malam tanpa bisa saling memberikan bantuan lebih.
Keesokan paginya, suami sudah berisik. Masih jam lima sudah pula dia nyalakan lampu kamar yang sontak langsung membuyarkan mood tidur. “Devi! Devi! Aku sudah sehat!”
Karena saya tidak segera beranjak, Dia mulai gaduh di dapur. Sempat saya berpikir terlalu mulia kalau-kalu suami mencuci semua piring kotor yang tidak terurus 2 hari semenjak kami tidak sehat. Semakin gaduh dia berusaha unuk membuat saya bangun, semakin enak hati saya untuk tidur. Sampai dia mengeluarkan sepeda motor dan entah kemana. Singkatnya, suami kelaparan. Satu-satunya peralatan yang dibersihkan adalah panci rice cooker dan panci kecil yang dipakainya masak sarden. Lalu, itu menjadi pagi pertama dia memasak sarapan untuk (kami).
Sarden. Saya tidak suka sarden dalam kaleng. Suami pun sepertinya hanya mempertimbangkan sisi praktis dari makanan yang dia olah. Lama kami memandangi sisa sarden di panci yang hanya terjumput dua ekor.
“sarden ini mahal. Satu kalengnya harga 8 ribu. Isinya ada 6 ekor. Dikurangi harga bumbu-bumbu, jadi satu ekor harganya seribuan. Mahal banget.”
“kau pintar berhitung. Aku gak pernah merasa harus menghitung harga satu ekor sarden dalam kaleng.”
Tawa bahagia mengembang sejadinya yang juga menandai kami berdua sudah sangat sehat.
Ngomong-ngomong tentang sarden dalam kaleng yang harganya mahal banget, saya langsung ngeri membayangkan membeli ikan kecil (yang saya anggap setara dengan pindang) seharga 8 ribu rupiah. Pasalanya, di Pelabuhan Puger, ikan sejenis yang jauh lebih segar di jual dengan 10 ribu rupiah satu ember kecilnya. Segar dan murah. Tanpa bahan pengawet. Trus apanya yang mahal? Kalengnya kali ya?
Tidak jauh-jauh dari ikan, di minggu yang sama berita tentang pengusiran etnis muslim Rohingnya menjadi top news di beberapa harian dan media. Hampir sebagian besar dari etnis ini akhirnya melarikan diri ke laut. Sama seperti kebiasaaan hidup mereka yang bergantung pada gulungan ombak dan kayanya ikan di samudra. Sayangnya, keberadaan mereka jika kembali ke daratan tidak pernah diakui. Tragedy rohingnya ini bukan sekali dalam pekan ini saja pernah terjadi, bahkan telah berkali-kali hingga bantuan dari PBB dan aktivis kemanusiaan pun telah lama mendarat diantara mereka. Sekali ini, media sukses menjadikannya headline.
Saya tidak lagi berminat membicarakan tentang etnis maupun ideology atau menebak-nebak dari sekian banyak berita siapa gerangan yang menjadi kambing hitam atas persoalan ini. Semua tentang ideology dan teritori biasanya menjadi blunder tersendiri. Sebut saja tentang holylandnya Israel. Selesaikah itu hingga kini? Tidak. Panjang dan semakin memebelukar saja sepertinya. Sama kira-kira tentang rohingnya, berawal dari pengusiran satu ke pengusiaran lainnya. Yang tidak pernah saya pahami adalah kenapa manusia sulit sekali berbagi? Selalu saja ada lapisan tersendiri bagi etnis, agama atau bahkan gender. Di Indonesia, tidak ada Negara asing yang terlalu menonjol sebagai ras yang perlu dijadikan isu strata social, maslahnya malah dari etnis-etnis di dalam Negara itu sendiri. Tentang ke-jawa-an yang kadang terlalu dilebih-lebihkan. Di Malaysia, lebih santer lagi kita tahu kalau ada sekat antara melayu, cina dan india. Lalu di belahan bumi lainnya antara kulit putih dan kulit hitam. Antara agama A dan B. Padahal semuanya biasanya Cuma mengacu pada system mayoritas.
Apakah yang membuat manusia lebih berarti adalah karena jumlahnya lebih banyak? Begitu mungkin kalau kita sedang membangun angakatan perang. Tapi dalam level paling sederhana? Bukankah setiap orang ingin terpenuhi hak-hak dasarnya? Lalu dihormati/dihargai keberadaannya? Banyak dari kita menggebu-gebu dan berapi-api ketika menjawab dan melakoni hal-hal untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi begitu dihadapkan pada keberadaan orang lain yang juga sedang berusaha memenuhi kodrat kemanusiaannya, kita lupa. Kita bisa sampai tidak menganggap kalau yang disebelah kita juga berjalan dengan tegak dengan dua kaki. Sekedar persamaan spesies saja kita kadang alpa untuk ingat. Apalagi, mungkin, untuk mempersilakan atau sama-sama melakoni hidup.
Kita tidak berbeda dengan sekumpulan ikan-ikan kecil dilautan yang berenang pada kedalaman yang sama. Untuk plankton, oksigen, sinar matahari dan saling melindungi. Setelahnya, Kalau kita sampai di daratan kemudian beberapa ada di dalam kaleng sedangkan yang lainnya tergeletak di atas daun pisang di pesisir apakah itu membuat kita berbeda? Apakah sebuah tempat, status atau apa pun itu yang melekat pada personal kita menghapuskan hakikat kita sebagai sesama makhluk hidup? Kaleng tetap kaleng. Itu Cuma wadah dengan berjuta label. Saat ikan-ikan yang sama dikembalikan ke laut, taulah kita tidak ada yang berbeda dari satu dengan yang lainnya.
Sarden, lain kali semoga kamu menjadi menu sarapan bersama kabar yang selalu membawa gembira.

Hello-again-Menulis!!

Cheers!
Jadi ini adalah blog yang dibuat oleh sebab khusus yaitu permintaan suami supaya istrinya menuis lagi. Mungkin supaya punya hobi lagi selain kegiatan monoton di pekerjaan. Secara, sejak akhir tahun 2014, di usia yang cukup muda—24tahun—saya sudah melepaskan status single. Kan tidak bisa dipungkiri ada beberapa hal yang dulunya bisa dilakukan dengan suka cita dan sangat terdukung kondisi jadi tiba-tiba ambles, hilang dan sengaja dihilangkan demi kenyamanan pasanagan (baca: rumah tangga)
Benarlah yang orang tua bilang tentang jodoh, sering kali air tidak harus bertemu air untuk menciptakan suatu komposisi baru yang lebih harmonis. Saya dan suami? Jelas bukan komposisi homogen dari sisi usia, cara hidup, pandangan hidup, pekerjaan, cara bersosial, cara makan, cara tidur, tipe barang atau hal-hal kesenangan. Kami lumayan berbeda. Satu hal saja, suami adalah orang yang sangat menikmati satu tempat yaitu tempat dimana dia berada dan bergiat. Jadi, menurut suami, kesenangan pribadi dapat dengan mudah dia peroleh dari tempat dimana dia berada sehari-hari. Tanpa jenuh. Sedangkan saya? Dari mulai pekerjaan saja sudah tidak mengijinkan untuk berada di satu tempat lama-lama. Paling lama 2 minggu untuk berada di satu kecamatan sebelum rolling surat tugas baru saya terima untuk pindah. Nomaden! Akibatnya, saya terbiasa dengan cepat beradaptasi di lingkungan yang baru dengan sangat cepat. Tanpa babibu. Tanpa tabik berlebih. Bisa kan dibayangkan ketika suami semakin lama berada di satu tempat dia akan semakin khusyuk menyelami kesenagannya dengan lingkungan sekitar, saya akan sudah menguap-nguap dan kehilangan konsentrasi, tidak sabar segera beranjak.
Tentang mental nomad saya, sepertinya didapat dari kebiasaan berpindah tempat dari kecil. Kalau dirunut singkat: saya lahir di karanganyar jawa tengah. Di usia 1 tahun pindah ke Lombok. Dalam masa hidup di Lombok selama 13 tahun saya sudah berpindah tempat tinggal 5 kali. SMA panda ke jawa tengah lagi. Kuliah di jember. Sempat pulang lagi ke solo. Bermukim nomad antara Surabaya dan probolinggo waktu mencari kerja. Dan kembali lagi ke jember. Di jember? Setiap minggu berganti kecamatan. Kadang masih bisa jalan-jalan ke kabupaten lain, tapi tidak sering. Anda pusing ya bacanya? Alhamdulillah saya yang menjalani baik-baik saja.
Setelah menikah, kesenangan menjadi nomaden ini akhirnya mau tidak mau harus dirumahkan. Sebab, bisa dibayangkan betapa payahnya suami saya jika dalam seminggu saya ada di luar kemudian weekendnya saya masih minta kemana dan kemana. Nah, karena factor merumahkan jiwa ini tidak melulu tentang mengurangi jadwal jalan-jalan fisik sebagai imbasnya pikiran dan kesenagan pun juga harus dicari alternative untuk merumahkannya.
Dan disinilah rumah pertama yang akan coba saya singgahi untuk bercerita kesenangan-kesenagan lain yang mungkin serasa dengan berkeliaran bebas.

Jadi, senang-senagkan diri disini.