WHEN GOD WAS A RABBIT : KETIKA FILSAFAT TIDAK HARUS MENJADI “BERAT”

“Desember Lagi. Ulang Tahunku. Hari Ini jugalah John Lennon ditembak, Sang Istri berada di sebelahnya” (Eleanor Maud)

Ditulis oleh Sarah Winman. Buku indah yang ketika saya baca versi terjemahannya punya sense seperti membaca ulang To Kill A Mocking Bird-nya Harper Lee ini membawa kita berjalan-jalan pada rel waktu yang menghubungkan pulau kanak-kanak menuju pulau dewasa yang tanpa kita sadari membentuk hidup yang kita jalani saat ini.

Meskipun sangat nyaman dibaca karena bahasanaya lugas, alurnya tidak menyulitkan dan karakter-karakter yang mudah dipahami, buku ini menyampaikan kekayaan intelektual dan kehalusan penulisnya. Sebut saja tentang pengalaman buruk di masa kecil Elli yang membuatnya tidak menikah dan eksistensinya sangat bergantung pada sang Kakak, Joe, diungkapkan dengan lembut hingga butuh untuk menyelesaikan buku hinggga akhir, baru kita mendapat keseluruhan cerita.

Terus terang saya tidak menemukan klimaks spektakuler pada novel ini, sebab alurnya mengalir lembut dan sangat normal—seperti hidup yang dijalani sebagian besar manusia. Tapi, pelajaran hidup tentang toleransi dan pandangan filsafatnya tentang Tuhan sungguh tajam. Sebut saja Ayah Elli, yang tidak perlu menjelaskan dan bersikap berlebihan tentang dirinya yang tidak percaya Tuhan (pada Agama), diam-diam memiliki nilai sendiri tentang “karma” :sebuah mekanisme ruhiyah yang sangat privat. Dalam novel ini, seolah-olah setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya yang eksentrik tentang Tuhan. Elly sendiri, menamai kelincinya “God”. Tentu saja bagi sebagian besar orang yang percaya pada doktrin agama, menamai peliharan dengan “tuhan” adalah sebuah penistaan. Tapi, pada sudut filsafat lain yang disampaikan Sarah Winmann, Tuhan adalah kesatuan alam dan kehidupan yang ada dalam wujud ataupun pengalaman meskipun itu sangat kecil/sederhana. Impartial.

Anda suka berjalan-jalan di belantara pemikiran yang lembut sekaligus liar namun penuh semangat? Siapkan sepotong kue, segelas air dan mulailah membaca.

PS: Desember lagi. 2016.

Norwegian Woods: Haruki Murakami

Ini resensi pertama saya dari beberapa buku yang say abaca belakangan. Penting untuk mengatakan ini diawal agar nantinya, pembaca maklum jika resensi saya kurang mengena. Tapi, baik juga kan untuk mencoba meresensi buku asing dengan level lumayan njelimet seperti karya Haruki Murakami satu ini.

Entah dari mana saya kenal nama penulis satu ini—seingat saya dari web yang menjual buku murah–, tapi nama ini dan beberapa karya nya terus menggema di kepala saya dengan judul: beli enggak ya? Beli enggak ya? Akhirnya, ketika suatu hari saya sedang menunggu penerbangan dari Jakarta ke Surabaya, karena bosan dan kalut, kaki saya begitu saja masuk ke dalam kios buku bandara yang sudah jelas tidak menawarkan buku murah. Perbedaan took buku di bandara dengan yang biasanya, tentu saja, sebagian besar novel yang dijual ditulis dalam versi bahasa inggris. Dari banyak buku yang saya taksir, akhirnya keputusan pertama jatuh pada “All The Light we Cannot See”-nya Anthony Doerr. Lalu, sebuah buku mungil bersampul kuning karya Haruki Murakami. Saya sendiri sanksi dengan keputusan membeli buku ini, jangan-jangan tak beli karena sampulnya kuning. Begitulah, kemudian saya membuka lembar demi lembar buku ini.

Murakami, menulis dengan gaya flash back, dimana tokoh utama Toru Watanabe memiliki kenangan kuat tentang perjalanan hidupnya dengan seoang Perempuan bernama Naoko. Kisah cinta? Iya. Jangan kecewa dulu, disinilah menariknya. Di point cerita cinta inilah Murakami menunjukkan kecerdasannya, sebab dia berhasil merangkai kisah cinta seorang Toru (yang normal) dengan Naoko (penderita mental disorder) dengan apik. Saya tertarik dan sanggup menuntaskan novel ini dalam waktu dua hari karena terhisap masuk dalam dimensi naoko. Yup! Sama seperti Toru yang tidak bisa melepaskan ingatannya tentang sosok Naoko. Kenapa Naoko begitu istimewa?

Ditulis dengan latar belakang tahun 1960, ketika Jepang mengalami masa transisi menjadi Jepang yang lebih modern, Murakami menyampaikan dengan lembut bahwa sejak masa itu tekanan yang dialami generasi muda jepang sungguh luar biasa. Dikisahkannya kakak Naoko—gadis berprestasi bintang sekolah—yang gantung diri tepat saat akhir tahun masa SMA-nya dengan hanya satu tanda depresi ringan yang diabaikan orang tua (kakak naoko selalu tidak masuk sekolah saat menstruasi karena depresi). Naoko kecillah yang menemukan kakaknya pertama kali di kamar dalam keadaan tewas tergantung seperti penari ballet. Lalu, hal tragis ke-dua yang dialami Naoko dan Toru bersama-sama adalah tewasnya kekasih Naoko yang juga sahabat Toru (bunuh diri dengan menyalakan mobil di dalam ruangan). Tidak lama setelah kematian kekasih Naoko, Toru adalah satu-satunya teman yang dimiliki Naoko ketika kuliah (meskipun keduanya kuliah di universitas berbeda). Namun setelah satu kejadian dimana Naoko dan Toru berhubungan intim untuk yang pertama kalinya, Naoko tiba-tiba menghilang.

Jalinan cerita yang dibuat apik dan menyentuh merupakan kekuatan novel ini. Konsistensi Toru dan Naoko untuk membantu kesiapan mental Naoko hidup di dunia social masyarakat pada umumnya dibantu Reiko Ishida (yang juga mengalami mental disorder) mengalun lembut namun mengguncang emosi. Tokoh “normal” lainnya juga ditampilkan denga cerita yang segar seperti kisah cinta Midori Hatsumi yang mati-matian menyukai Toru.

Setelah tuntas membaca novel ini, perasaan jadi terkuras habis. Kenapa? Disitulah kepiawaian seorang penulis mendapat tempatnya di hati pembaca. Begitulah novel ini menjadi salah satu novel kontemporer yang hits dikalangan remaja jepang.

Tentang Norwegian wood sendiri, sebenarnya adalah lagu dari grup music legendaries the beatles. Begini liriknya:

Once, I had a girl

Or shoud I say, she once had me

She showed me her room

Isn’t it good? Norwegian wood..

She asked to sit anywhere

But I noticed there wasn’t a chair

So, I sit on a rug, biding my time dringking her wine

We talked until two, and then she said “it’s time for bed”

She told me she worked in the morning

And started to laugh

I told her didn’t

And crawled off to sleep in the bath

And when I awoke

I was alone

This bird had flown

So I lit a fire

Isn’t it good Norwegian wood,,

Selamat Tahun Baru dan Selamat Datang MEA

 

 

happy-new-year-2016-wallpaperBagaimana tahun baru anda? Seronok? Gempita? Beragam perayaan yang bisa kita saksikan sebagai symbol penyambutan tahun yang baru. Mulai dari perayaan artificial sejenis terompet, kembang api, lampu pijar dan sorak sorai menyambut awal hari yang bisa jadi para penyambutnya ini memulai dengan bangun kesiangan setelah konvoi atau nobar semalam suntuk. Awal yang bagus untuk memulai? Bisa jadi, sebab hanya terjadi setahun sekali ketika kantor membolehkan masuk setengah hari. Di lain pihak, ada juga yang sejak jauh hari telah menyiapkan rentetan tulisan berupa resolusi untuk dicapai di tahun yang baru. Seperti awal dari semua hal, para pembuat resolusi yakin dan senang menyambut suatu “awal” dimana banyak impian bisa lagi diprogreamkan untuk diwujudkan dalam satu putaran tahun yang akan berjalan. Tidak ada yang buruk dari membuat resolusi, bahkan tulisan di secarik kertas atau angan-angan ini mampu membangkitkan semangat untuk kembali lebih produktif dan meningkatakn kualitas hidup. Sejatinya seperti itu bukan tujuan kita membuat resolusi, bukan hanya sekedar tulisan untuk menghapus target tahun lalu yang belum sempat terlaksana atau bahkan justru menambahi eban hidup kita.
Lantas, apa rencana baru anda di awal tahun yang baru? Bisa jadi, punya pasangan hidup yang baru, mobil baru, rumah baru, atau masih menambal sulam resolusi tahun lalu “untuk hidup yang lebih baik”? tidak masalah, sebab tidak semua hal harus dicapai seluruhnya dalam satu tahun. Karena bagi saya sendiri, resolusi tahun ini adalah kelanjutan dari proses hidup tahun lalu. Apa yang belum selesai diselesaikan, apa yang masih jauh dikejar lagi. Namun jika tidak ingin tergeser atau bahkan tertinggal di lomba marathon ambisi, tahun ini sebaiknya kita mulai bersegera. Sebab apa? Di tahun 2016, Indonesia telah membuka pintu perdaangan bebas untuk kawasan Asia Tenggara yang selanjutnya kita sebut sebagai MEA (Masyarakat Ekonomi Asean/Asean Economic Community), dimana salah satu indicator penting dari MEA adalah perdagangan bebas di Negara-negara yang ada pada satu kawasan dan berkembangnya masyarakat yang mandiri terutama secara ekonomi. Bisa kita bayangkan bagaimana strategisnya Indonesia sebagai pangsa bagi industry dari Negara-negara tentangga yang luas wilayah dan jumlah penduduknya belum menandingi Indonesia. Diperkuat lagi dengan dihapuskannya non-zero tax untuk Negara yang meratifikasi hasil pertemuan di Malaysia akhir tahun 2015 yang lalu, tentu harga barang yang beredar akan bisa lebih murah. Salah satu keuntungan di pihak Indonesia memang adalah jumlah penduduk yang tinggi sebab akan meningkatkan arus perputaran uang dengan adanya berbagai pembelian, tapi jika tidak diimbangi dengan produktivitas yang sama, tentu bukan indikasi yang baik.
Salah satu tujuan dibukanya MEA adalah tentu saja untuk meningkatkan pertumbhan ekonomi di Negara-negara satu kawasan yang salah satu caranya memang harus dengan “paksaan” untuk berani berkompetisi. Disemu abiding, Indonesia tidak boleh segan dan harus mulai berani untuk mengandalkan produk dalam negeri. Misalnya untuk pangan, mungkin diversifikasi pangan pokok bisa dimulai tidak hanya di Indonesia bagian timur agar kita tidak lagi terlalu bergantung pada impor beras. Kemudian di sector kelautan misalnya, selain penegakkan hokum laut tentu masyarakat pesisir juga sangat membutuhkan agen distribusi hasil laut yang sehat dan mampu menawarkan harga beli hasil tangkapan yag dapat membantu kesejanteraan para nelayan. Struktur dan infrastruktur perlu lagi dibenahi, serta tidak lupa sumber daya manusianya. Bayangkan jika pemerintah sudah menggelontorkan milyaran rupiah untuk memeperudah jalur distribusi tapi masih saja ada oknum lintah darat, bagaimana?
Tidak perlu takut untuk bersaing, Orang lama bilang “the power of kepepet” itu tidak bisa diabaikan. Bayangkan kita begitu kepepetnya tapi harus bisa beli ini dan itu, bisa meraih ini dan itu, tentu menabung bukan solusi tapi bagaimana membuat putaran uang menjadi pusaran yang lebih besar bisa jadi jawaban. Memulai atau mengembangkan usaha adalah solusi efektif di tengah krisis. Semakin hebat tekanannya, maka semakin handal seorang melakukan pengendalian diri dan memicu setiap lobus di otaknya untuk memunculkan ide kreatif yang harus segera dieksekusi. Intinya, jangan takut sebelum memulai. Jangan malu juga. Bersemangat. Sebab siapa yang semangatnya paling besar , sebenarnya telah memenangkan pertadingan sebelum start.

Hello-again-Menulis!!

Cheers!
Jadi ini adalah blog yang dibuat oleh sebab khusus yaitu permintaan suami supaya istrinya menuis lagi. Mungkin supaya punya hobi lagi selain kegiatan monoton di pekerjaan. Secara, sejak akhir tahun 2014, di usia yang cukup muda—24tahun—saya sudah melepaskan status single. Kan tidak bisa dipungkiri ada beberapa hal yang dulunya bisa dilakukan dengan suka cita dan sangat terdukung kondisi jadi tiba-tiba ambles, hilang dan sengaja dihilangkan demi kenyamanan pasanagan (baca: rumah tangga)
Benarlah yang orang tua bilang tentang jodoh, sering kali air tidak harus bertemu air untuk menciptakan suatu komposisi baru yang lebih harmonis. Saya dan suami? Jelas bukan komposisi homogen dari sisi usia, cara hidup, pandangan hidup, pekerjaan, cara bersosial, cara makan, cara tidur, tipe barang atau hal-hal kesenangan. Kami lumayan berbeda. Satu hal saja, suami adalah orang yang sangat menikmati satu tempat yaitu tempat dimana dia berada dan bergiat. Jadi, menurut suami, kesenangan pribadi dapat dengan mudah dia peroleh dari tempat dimana dia berada sehari-hari. Tanpa jenuh. Sedangkan saya? Dari mulai pekerjaan saja sudah tidak mengijinkan untuk berada di satu tempat lama-lama. Paling lama 2 minggu untuk berada di satu kecamatan sebelum rolling surat tugas baru saya terima untuk pindah. Nomaden! Akibatnya, saya terbiasa dengan cepat beradaptasi di lingkungan yang baru dengan sangat cepat. Tanpa babibu. Tanpa tabik berlebih. Bisa kan dibayangkan ketika suami semakin lama berada di satu tempat dia akan semakin khusyuk menyelami kesenagannya dengan lingkungan sekitar, saya akan sudah menguap-nguap dan kehilangan konsentrasi, tidak sabar segera beranjak.
Tentang mental nomad saya, sepertinya didapat dari kebiasaan berpindah tempat dari kecil. Kalau dirunut singkat: saya lahir di karanganyar jawa tengah. Di usia 1 tahun pindah ke Lombok. Dalam masa hidup di Lombok selama 13 tahun saya sudah berpindah tempat tinggal 5 kali. SMA panda ke jawa tengah lagi. Kuliah di jember. Sempat pulang lagi ke solo. Bermukim nomad antara Surabaya dan probolinggo waktu mencari kerja. Dan kembali lagi ke jember. Di jember? Setiap minggu berganti kecamatan. Kadang masih bisa jalan-jalan ke kabupaten lain, tapi tidak sering. Anda pusing ya bacanya? Alhamdulillah saya yang menjalani baik-baik saja.
Setelah menikah, kesenangan menjadi nomaden ini akhirnya mau tidak mau harus dirumahkan. Sebab, bisa dibayangkan betapa payahnya suami saya jika dalam seminggu saya ada di luar kemudian weekendnya saya masih minta kemana dan kemana. Nah, karena factor merumahkan jiwa ini tidak melulu tentang mengurangi jadwal jalan-jalan fisik sebagai imbasnya pikiran dan kesenagan pun juga harus dicari alternative untuk merumahkannya.
Dan disinilah rumah pertama yang akan coba saya singgahi untuk bercerita kesenangan-kesenagan lain yang mungkin serasa dengan berkeliaran bebas.

Jadi, senang-senagkan diri disini.