Mrs. Injury Time

strona2

 

Siang ini saya mengingat seseorang. Namanya I wayan Parwadi. Seorang wali kelas yang juga guru fisika di SMP dulu. Saya mengingat beliau setelah ngos-ngosan bolak balik dari unit ke rumah sampai ke KFO (kantor fungsional operasional).
Berawal dari meninggalkan suami dan anak di rumah, saya berangkat lebih awal ke unit yang hanya butuh 10 menit perjalanan via motor. Jam 8 kurang 5. Saya girang karena bisa dating sedikit lebih awal dari yang dikatakan tepat waktu, baru mulai memutuskan memulai rapat pagi untuk over view pendampingan uit, satu karyawan belum dating dan yang lain memutuskan untuk menunggu sebab ybs tidak pernah terlambat. Sudah lebih dari 30 menit menunggu, rupanya kali terlambat juga, rapat dimulai. Usai meeting saya, agenda dilanjutkan dengan beberapa kegiatan urgent tim bisnis sampai pukul 10.05. Tepat pada saat saya melihat waktu di monitor lap top saya teringat anak dan suami di rumah. Tidak ada susu formula yang tersimpan di rumah sebab sehari-hari si kecil hanya diberi susu formula jika di bawa ayahnya ke toko. Sambil minta ijin ke ATM, saya sempatkan memebli susu kaleng dan mengantarkan ke rumah. Pintu samping rumah terbuka, tapi tidak ada tanda-tanda suami dan anak saya. Celingak-celinguk di sekitar rumah—barang kali si kecil dibawa ayahnya ke warung belakang kompleks—nihil. Saya kembali kedalam rumah, memastikan beberapa barang seperti kamera yang setiap hari menjajari koleksi buku masih ada, menelusuri kamar belakang sampai gudang dan memastikan tidak ada seseorang atau kucing tetangga yang tertinggal di dalam. Saya bergegas kembali ke unit menjemput OJT (2 minggu ini saya menghandle satu OJT dari banyuwangi). Lalu memacu kendaraan ke toko suami. Taraaa….. si kecil baru reda dari tangisnya, minta disusui. Naluri ibu mana yang kuasa menolak? Meski niatnya hanya mengambil kunci rumah dan mengantarkan susu formula.
Dan setelah sekitar setengah jam saya menemani anak saya, cuss… ke KFO tapi harus mampir ke rumah untuk cek lagi sebelum mengunci pintu. Sampai di KFO jam 10.45 dengan gembira, hingga tiba di ruang bersama sudah ada dua rekan kerja yang bermuka tegang. Tambah bingung dan tegang melihat saya bungah.
Rekan A: “Mbak Devi sudah selesai?”
Saya: “Sudah mbak, tadi pagi Cuma over view”
Rekan B:” refreshmentnya sudah?”
Saya:” haaaa….. “
Mereka panik seketika. Rekan A bilang sudah menghubungi ojt saya untuk mengingatkan saya supaya buka email, lalu di hp ada rekan kerja di kabupaten tetangga yang sudah berkali-kali telepon dan akhirnya sms juga dengan all caps lock isinya” MBA, ADA REFRESHMENT”.
10 soal perbankan syariah, 15 menit. Bukan sombong tapi ini bakat khusus mengarang indah. 2 rekan yang sudah sejam setengah mengerjakan melongo, sempat ditawari contekan juga. Akhirnya lega setelah email jawaban terkirim ke manaher dan head. Mereka sakit mata karena membaca huruf cacing? Pasti. Dan bukan Cuma sekali. 😀
Seingat saya, waktu juga yang menjadi alasan kenapa di assessement manajer lalu saya dinyatakan tidak lebih siap dari salah satu kandidat. Ya, ketika yang lain sudah stand by jam 8, saya dengan sangata tepat waktu dating jam 9. Sesuai jadwal dimulainya tes pertama. Barangkali itu juga yang membuat head saya ill feel. Lalu mengirim laporan mingguan di detik-detik terakhir juga disinggung manaher sebagai salah satu sebab saya harus mengulang assessment (catatan: jika diberi kesempatan lagi tentunya).
Apakah dengan mengirim laporan di detik-detik terakhir membuat saya menjadi orang yang malas? Tidak. Atau orang yang sangat panic? Sama sekali tidak. Tapi, yang terlibat dengan saya tidak mungkin tidak membuat penilaian tentang bagaimana saya menghandle waktu terutama waktu kerja. Di setiap unit, saya selalu bilang dengan serius: SAYA TIDAK SUKA LEMBUR. SAYA TIDAK MAU BEKERJA DI LUAR KESEPAKATAN DENGAN PERUSAHAAN. Sebagai imbasnya, tentu, jangan menghambat pekerjaan saya hehe… 8 jam dalam sehari dengan satu jam istirahat siang untuk ishoma. Dengan target yang tidak sedikit, setiap menitnya sangat penting. Apalagi jika sudah berkeluarga seperti sekarang. Tiap menit adalah hasil yang terukur (serius sekali? Iya, karena laporan audit juga bukan hal yang sepele. Semakin serius ya? Haha..).
“Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri” itulah yang dikatakan I wayan Parwadi yang juga guru Fisika pertama saya yang pasti telah lama bergulat dengan teori relativitas Einstein. Benar kita disediakan 24 jam dalam sehari tapi masing-masing bergerak menggunakan waktunya sendiri-sendiri. Saya dengan waktu dan kegiatan saya, Anda dengan waktu dan kegiatan anda. Meski Pak Wayan menambahkan kalimat perfeksionis dimana waktu yang kita pergunakan menentukan hasil yang kita dapatkan, tetap saja, tidak perlu menggunakan jam tangan orang lain untuk memiliki satu hari kita sendiri. Hari ini? Saya sudah selesai dan memasuki timeless moment bersama anak dan suami. See You again Monday!

SARDEN DALAM KALENG

Kejutan kecil hadir di pernikahan kami yangbaru seumur jagung. Tidak terbayang rasa lelah yang tidak terlalu diperhatikan akhirnya menggerogoti kekebalan fisik kami berdua. Jatuh sakit di waktu yang bersamaan. Setelah sehari yang terasa terlalu panjang dan melelahkan, akhirnya kami hanya saling pandang tanpa kuat membelai atau menggosoki punggung masing-masing dengan cairan kayuputih. Tidak ada ucapan kata apa pun, kami sudah tidak berkeinginan pada seduhan the panas atau bahkan saling mengahangatkan. Malam itu, Cuma ada senyumnya—sehyum kecil yang aku tahu pernah dikagumi banyak perempuan—dan rasa syukur bahwa kami berdua masih bisa pulang. Meski tidur dengan nyeri punggung dan terbangun berkali-kali dalam satu malam tanpa bisa saling memberikan bantuan lebih.
Keesokan paginya, suami sudah berisik. Masih jam lima sudah pula dia nyalakan lampu kamar yang sontak langsung membuyarkan mood tidur. “Devi! Devi! Aku sudah sehat!”
Karena saya tidak segera beranjak, Dia mulai gaduh di dapur. Sempat saya berpikir terlalu mulia kalau-kalu suami mencuci semua piring kotor yang tidak terurus 2 hari semenjak kami tidak sehat. Semakin gaduh dia berusaha unuk membuat saya bangun, semakin enak hati saya untuk tidur. Sampai dia mengeluarkan sepeda motor dan entah kemana. Singkatnya, suami kelaparan. Satu-satunya peralatan yang dibersihkan adalah panci rice cooker dan panci kecil yang dipakainya masak sarden. Lalu, itu menjadi pagi pertama dia memasak sarapan untuk (kami).
Sarden. Saya tidak suka sarden dalam kaleng. Suami pun sepertinya hanya mempertimbangkan sisi praktis dari makanan yang dia olah. Lama kami memandangi sisa sarden di panci yang hanya terjumput dua ekor.
“sarden ini mahal. Satu kalengnya harga 8 ribu. Isinya ada 6 ekor. Dikurangi harga bumbu-bumbu, jadi satu ekor harganya seribuan. Mahal banget.”
“kau pintar berhitung. Aku gak pernah merasa harus menghitung harga satu ekor sarden dalam kaleng.”
Tawa bahagia mengembang sejadinya yang juga menandai kami berdua sudah sangat sehat.
Ngomong-ngomong tentang sarden dalam kaleng yang harganya mahal banget, saya langsung ngeri membayangkan membeli ikan kecil (yang saya anggap setara dengan pindang) seharga 8 ribu rupiah. Pasalanya, di Pelabuhan Puger, ikan sejenis yang jauh lebih segar di jual dengan 10 ribu rupiah satu ember kecilnya. Segar dan murah. Tanpa bahan pengawet. Trus apanya yang mahal? Kalengnya kali ya?
Tidak jauh-jauh dari ikan, di minggu yang sama berita tentang pengusiran etnis muslim Rohingnya menjadi top news di beberapa harian dan media. Hampir sebagian besar dari etnis ini akhirnya melarikan diri ke laut. Sama seperti kebiasaaan hidup mereka yang bergantung pada gulungan ombak dan kayanya ikan di samudra. Sayangnya, keberadaan mereka jika kembali ke daratan tidak pernah diakui. Tragedy rohingnya ini bukan sekali dalam pekan ini saja pernah terjadi, bahkan telah berkali-kali hingga bantuan dari PBB dan aktivis kemanusiaan pun telah lama mendarat diantara mereka. Sekali ini, media sukses menjadikannya headline.
Saya tidak lagi berminat membicarakan tentang etnis maupun ideology atau menebak-nebak dari sekian banyak berita siapa gerangan yang menjadi kambing hitam atas persoalan ini. Semua tentang ideology dan teritori biasanya menjadi blunder tersendiri. Sebut saja tentang holylandnya Israel. Selesaikah itu hingga kini? Tidak. Panjang dan semakin memebelukar saja sepertinya. Sama kira-kira tentang rohingnya, berawal dari pengusiran satu ke pengusiaran lainnya. Yang tidak pernah saya pahami adalah kenapa manusia sulit sekali berbagi? Selalu saja ada lapisan tersendiri bagi etnis, agama atau bahkan gender. Di Indonesia, tidak ada Negara asing yang terlalu menonjol sebagai ras yang perlu dijadikan isu strata social, maslahnya malah dari etnis-etnis di dalam Negara itu sendiri. Tentang ke-jawa-an yang kadang terlalu dilebih-lebihkan. Di Malaysia, lebih santer lagi kita tahu kalau ada sekat antara melayu, cina dan india. Lalu di belahan bumi lainnya antara kulit putih dan kulit hitam. Antara agama A dan B. Padahal semuanya biasanya Cuma mengacu pada system mayoritas.
Apakah yang membuat manusia lebih berarti adalah karena jumlahnya lebih banyak? Begitu mungkin kalau kita sedang membangun angakatan perang. Tapi dalam level paling sederhana? Bukankah setiap orang ingin terpenuhi hak-hak dasarnya? Lalu dihormati/dihargai keberadaannya? Banyak dari kita menggebu-gebu dan berapi-api ketika menjawab dan melakoni hal-hal untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi begitu dihadapkan pada keberadaan orang lain yang juga sedang berusaha memenuhi kodrat kemanusiaannya, kita lupa. Kita bisa sampai tidak menganggap kalau yang disebelah kita juga berjalan dengan tegak dengan dua kaki. Sekedar persamaan spesies saja kita kadang alpa untuk ingat. Apalagi, mungkin, untuk mempersilakan atau sama-sama melakoni hidup.
Kita tidak berbeda dengan sekumpulan ikan-ikan kecil dilautan yang berenang pada kedalaman yang sama. Untuk plankton, oksigen, sinar matahari dan saling melindungi. Setelahnya, Kalau kita sampai di daratan kemudian beberapa ada di dalam kaleng sedangkan yang lainnya tergeletak di atas daun pisang di pesisir apakah itu membuat kita berbeda? Apakah sebuah tempat, status atau apa pun itu yang melekat pada personal kita menghapuskan hakikat kita sebagai sesama makhluk hidup? Kaleng tetap kaleng. Itu Cuma wadah dengan berjuta label. Saat ikan-ikan yang sama dikembalikan ke laut, taulah kita tidak ada yang berbeda dari satu dengan yang lainnya.
Sarden, lain kali semoga kamu menjadi menu sarapan bersama kabar yang selalu membawa gembira.