“Hantu yang Hidup dalam Pikiran”

Menjelang 30 September 2017.

Saya Devi. Saya adalah seorang istri, dan ibu seorang anak perempuan. Jujur saja, saya tidak terlalu ambil pusing dengan setiap tanggal yang berlalu. Entah itu tanggal berwarna hitam, merah, bahkan tanggal perayaan ulang tahun saya sendiri. Lalu tiba-tiba begitu banyak posting di ruang public tentang 30 september yang memaksa ketertarikan saya membacai satu persatu laman tautan atau copas yang menjadi status. Apa yang saya baca, tentu tidak jauh berbeda dengan yang dibaca orang-orang belakangan (di bulan September ini).

Hobi saya 7 tahun terakhir adalah mendengarkan cerita dari laki-laki yang sekarang saya nikahi, bapak dari putri tunggal kami. Awalnya, ketika saya meminta dia bercerita, makdsud hati ingin disuguhi romantisme, ndilalah buku sejarah beraneka rupa hanyut membentuk sup siap saji di kepalanya. Malangnya saya. Tapi yang paling buruk adalah ketika berhubungan dengan manusia yang menyukai sejarah dan manusia, maka kamu adalah korban yang dikuliti hidup-hidup dihadapannya. Bagaimana tidak? Sebagian besar manusia hidup untuk dilihat hari ini. Lantas jika ada orang lain yang mampu melihat dan mengatakan semua yang menjadikanmu kamu saat ini bukankah itu seperti ditelanjangi? Malu. Tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan jika hari ini kita menjadi lebih baik sekalipun.

Saya pernah (sering kali ya) merasa secara brutal “dotelanjangi” ketika suami saya bertanya tentang akar prilaku saya yang sungguh sangat kentara setelah menikah. Menurutnya, saya bukanlah orang yang agamis tapi saya mentertariki hidup dengan cara relijius. Itu benar. Suami saya sudah memilih seekor ikan dan sekarang dilihatnya darimana ikan ini berasal. Berbeda dengan suami saya yang lahir dan tumbuh di pesisir jawa timur, yang sebagaimana kita kenal merupakan basis penyebaran islam, saya berasal dari sebuah desa di jawa tengah yang kental dengan sebutan abangan. Saya rasa saya tidak perlu malu untuk mengakui bahwa sampai saat ini, tradisi abangan yang mengakar dan lebih dekat dengan Hindu masih dipraktikan meski secara data kami menganut agama Islam. Seperti, budaya pancenan, dimana pada tanggal tertentu diletakkan sesajen di meja makan dengan makanan kesukaan yang diberi pancen (orang tua yang telah meninggal). Awalnya saya menolak, tapi pernah saya merasa ada kedamaian ketika berdiri menatap dupa yang dibakar ditengah-tengah makanan lezat yang di tata di meja. Pada saat yang sama saya diajari bahwa rasa damai yang demikian tak perlu dibenturkan dengan benar salah menurut salah satu cara hidup yang berbeda. Hasilnya jelas tidak sepadan.

Lalu dari mana ketertarikan tentang hidup relijius berbenturan dengan norma asal keluarga besar saya? Jawabannya masa kanak-kanak saya. Saya hidup ditempat yang budayanya mirip dengan budaya di kampung halaman suami saya. Tidak banyak yang saya pelajari selain mengaji dan belajar solat. Mungkin karena cetakan saya adalah anak bengal luar biasa, banyak hal yang tidak bisa saya terima dengan baik tentang konsep dosa dan pahala. menurut pikiran saya dulu, rumit sekali melakukan sesuatu harus berpikir dosa dan pahalanya sebelum berbuat. Terlebih di rumah saya dikenalkan dengan konsep baik dan buruk. Baik dan buruk tanpa implikasi pahala dan dosa. Digabungkan dengan Salah satu hasil didikan Bapak saya untuk menyampaikan pendapat membuahkan sebuah predikat dari salah seorang guru ketika SMP:  Liberal!. Untung waktu itu saya tidak tahu artinya, Haha…

Sekarang? Saya bisa saja kembali menjadi seorang anak ingusan yang bertanya macam-macam atau melontarkan pernyataan dengan vulgar. Kenyataannya saya memilih untuk menikmati pertanyaan-pertanyaan dengan peredam dalam kepala. Lebih  sulit memang untuk tidak melepaskan pikiran kita, apalagi godaan tanggapan di ruang public sangat tinggi. Lantas muncul pertanyaan pamungkasnya: “apa yang sebenarnya kamu cari?” Kedamaian. Dan saya tidak perlu menjelaskan dengan ngotot ke orang lain tentang cara mencipta dan menikmati ruang damai itu. Sebab bukan orang lain, tapi kita sendiri yang menciptakannya. Di mulai dari pikiran kita. Disana kita sendiri yang tahu    harumnya hio yang terbakar dan tipisnya sekat antara dunia nyata dengan alam setelah kematian. Dan sejarah, tinggal sejarah. Siapaun pemiliknya memiliki hak untuk bercerita. Tapi setelah itu?

Advertisements

Sebuah Rumah Tempat Hati Tinggal

“Ketika menjadi perempuan bukan lagi suatu pilihan, tetapi keharusan saya tahu saya telah mengambil keputusan yang tepat. “

Sejauh lima tahun saya menjejaki langkah di sebuah perusahaan yang tidak lagi hanya berupa bangunan dengan akses ekonomi memadai tetapi menemukan juga kualitas hubungan pertemanan disana. Meskipun, kita semua yang pernah ada di sebuah institusi tahu bahwa tidak ada gading yang tak retak, demikian juga sebuah sistem yang dijalankan oleh manusia-manusia. Kadang beberapa kawan sendiri mengesampingkan akal budi demi kepentingan yang.. sudahlah tidak perlu saya panjang lebarkan disini. Dan sayangnya, demi hal-hal yang sulit saya pahami itu semua nilai tidak lagi ada artinya. The worst evil I ever met in this live had said, “it’s as good as you lean on every night” tau deh maksudnya gimana!

Nah! Keinginan untuk melepaskan status sebagai karyawan sudah ada sejak setahun lalu tetapi pembenarn demi pembenaran terus saja muncul hingga akhirnya tiba saja moment—yang akan saya ceritakan berikutnya—“sekarang”-nya. Prosesnya memang tak senyaman menulis kilas balik ini tetapi efeknya tetap baik. Misalnya saja, ketika saya menjadi Ibu Rumah Tangga-selanjutnya saya sebut IRT—saya sadar betul bahwa nilai yang orang lain berikan pada saya tidak lagi pada seragam atau profesi saya di luar, melainkan pada bagaimana semua yang secara alami dan keseharian melekat pada diri saya. Tentu hal ini menjadi sangat menyenangkan dan juga lebih menantang. Bayangkan Tanpa adanya kode etik perusahaan, saya dituntut mengasah ke-pekaan atas norma social yan tidak ada aturan baku tertulisnya.

Kedua, menjadi IRT berarti memiliki akses pribadi ke diri kita seutuhnya. Pernah dengar pepatah yang bilang, ketika kamu punya uang maka kamu kehilangan waktu, sebaliknya, ketika kamu menjauhi uang waktumu akan kembali. Yap! Urusan ekonomi memang penting, tetapi ada kalanya saya merindukan waktu luang. Sekarang ketika “waktu luang” saya kembali saya tidak harus merindukan urusan ekonomi tetapi bisa memulai lagi apa yang saya ingin lakukan dengan sungguh-sungguh. Tuhan itu maha baik, setidaknya dia titipkan satu kelebihan yang bisa jadi bekal kita hidup. Kelebihan saya? Malu ah, nanti saja kalau sudah bisa dinikmati bersama pasti tahu.

Tentang anak, saya bukan satu-satunya ibu yang anaknya merengek-rengek bahkan menangis di pagi hari ketika akan ditinggal kerja tapi rasanya bagi semua ibu sama saja. Kalau sudah begitu, seharian yang produktif pun tidak lagi berkesan baik. Badan di kantor, pikiran ke computer dan angka tapi hati nun jauh di anak. Meskipun saya termasuk salah seorang yang beruntung karena pengasuhan anak saya dibantu oleh adik-adik (meskipun cowok semua), hati seorang ibu tetap saja merindu. Sekarang, ada banyak sekali Pe-Er tentang tumbuh kembang anak yang harus saya tangani dan rasakan sehari-hari secara utuh. Tentu bukan jadi masalah, justru disana saya merasa hidup saya utuh. Dan, kalau Tuhan kasih rejeki lagi saya dah siap buka taman bermain hahahaha…

The Last but not least, when I was home, I knew he was always there. I knew he was home that I ever decided to living with. Trus, apa lagi yang kurang? Tidak ada.

(salam hangat untuk kawan-kawan seperjuangan yang masih mengayuh pedal kahidupan demi keluarga di luar sana)

Anyway, Doesn’t Celine Dion right? 😛

Celine-Dion-quote-housewife-job

TELAPAK TANGANMU

Pinjamkan telapak tanganmu,

Kulukis hujan

Sehingga jarum waktu akan berputar mundur dengan sendirinya

Aku kembali pada semula, seekor kumbang yang bergantung di alang-alang

Berayun, ditimang air yang berjatuhan

Di atas air, kupandangi diriku yang kecil

Setitik diantara bayangan langit yang memantul di telaga

Di kehidupanku berikutnya,

Pinjamkan aku telapak tanganmu

Kupahat hutan

Sampai ku dengar kau bertanya,”mau jadi apa sekarang?”

Menyenangkan kiranya jadi burung yang terbang

Tapi aku suka menjadi semut

Kecil sekali

Sampai habis usiaku menjelajah reliefmu

Lalu mati diatas puncak salju

Aku sempat dengar kau berbisik,”sudah tahu aku, kenapa kamu jadi semut”

Kupandang saljumu, “supaya badanku yang hitam tidak sulit hilang”

Ketika aku dilahirkan kembali,

Pinjamkan padaku relief yang pernah kupahat di telapak tanganmu

Pada sebuah pohon aku ingin tinggal

Tidak menjadi apa-apa

Berdiam melihat hal indah dari sana

Kau lihat sayangku,

Seekor burung menukik ke telaga

Dari bulunya memercik air yang membangunkan kelinci dan sekawanan anteloph yang sedang minum.

Tertawa dia!

Hey, apakah itu lily? Kecubung? Bunga bakung?

Berselang-seling diantara ilalang

Tempat kumbang kecil menetas dan memulai hidup dari manisnya sesarian

Bah! Cerewet sekali rupanya para siamang yang bergelantungan

Bersorak riuh meneriaki-ku

Mereka bilang aku berbohong

Aku konyol dan irasional

Singkatnya: aku gila!

Karena kuperliahtakan telapak tanganmu

Yang kubuat padanya sebuah dunia

Kapitalisme!

Mereka melempari buah persik hingga aku jatuh

Beruntung!

Seberuntung kau pernah meminjamkan telapak tanganmu,

Kulukis biru padanya

Entah langit atau laut

Aku jatuh dan melayang

Pinjamkan lagi telapak tanganmu

 

Refleksi Sederhana –calon- Orangtua

baby and mom

Terlampaui sudah tri mester pertama yang melelahkan dari jatah 9 bulan 10 hari masa mengandung manusia. Hampir menyentuh 6 bulan di 2 minggu ke depan. Tidak bisa melihat setiap hari memang, sebagaimana seperti yang saya suka tonton di film dokumenternya BBC tentang human birth, betapa ajaibnya dua sel yang secara kontinyu di produksi manusia dewasa (yang jika tidak terjadi pembuahan hanya berakhir di tempat pembuangan semata) mengalami tahapan menakjubkan ketika lebur menjadi satu. Tidak mungkin tidak, setiap perempuan yang mengalami masa kehamilan tidak berkeinginan meraba dan merasa apa yang tengah terjadi di alam di bawah kulit perut yang menjadi semesta awal bagi semua pengetahuan yang akhirnya akan dicapai seorang manusia. Di dalam rahim, seperti sup nebula di jagat raya, proses-proses indah dari hanya dua inti terkecil manusia yang bertemu bisa menjadi milyaran sel yang akhirnya menjadi jaringan dan organ-organ yang secara sangat ajaib bisa mengkoordinasikan diri menjadi keutuhan, menjadi tempat menyimpan semua pengalaman, serta menjadi sebuah pergerakan baru yang nyata diantara manusia lainnya.
Orang bilang, manusia kecil ini mulai semakin terasa dan semakin nyata kehadirannya di dunia setelah bulan ke empat. Tepat setelah beberapa organ vital dasar yang dibutuhkan manusia mewujud sempurna sesuai fungsinya. Lalu, secercah pengetahuan yang dibagi lewat dunia maya juga memberi tahu perempuan tanpa pengalaman ini bahwa manusia kecil yang dia bawa di dalam rahimnya mulai mendengar dan bereaksi ketika usia 6 bulan. Dan sampai saatnya tiba, saya rasa saya semakin bisa merasakan bagaimana dia bukan lagi entitas asing dari dua sel kasat mata melainkan manusia yang bergerak, merespon, dan mulai mempunyai keterikatan paling sederhana dengan saya sebagai sesama manusia. Sebagai ibu dan anak tentunya.
Menjadi Ibu. Begitu seharusnya tajuk tulisan ini saya buat. Isinya long-listing-everything-needed dalam melakoni peran baru yang –insyaAlloh-akan tiba dengan lebih nyata. List ini jika ditulis mungkin akan sangat panjang dan perlu banyak sekali kolom-kolom untuk memisahkan jenis-jenis persiapan menjadi ibu. Tapi saya tidak pandai membuat list semacam list blanja yang akan disetor ke suami atau harus dilakukan secara rutin. Termasuk sepertinya untuk keperluan pasca melahirkan. Lantas, yang akhirnya saya coba jangkau adalah apa-apa saja yang sekiranya terjangkau pikiran saya. Lalu payahnya Cuma ada dua: materi dan yang selain materi.
Banyak sudah liteartur yang membahas tentang keduanya, baik secara gamblang maupun tersirat. Jadi kalau ingin melihat detail apa saja yang membahas tentang keduanya, sangat mudah, semudah menekan sekali atau dua kali klik. Tentang materi, begitu terlahir satu manusia, seolah-olah semua pabrik penyedia barang kebutuhan manusia baru sudah bersekongkol untuk membuat paket kebutuhan itu memang harus ada (baca: harus dibeli) dan harus dipersiapkan. Benar memang, tapi kalau kemudian membuat kita bertekuk lutut pada konsumerisme atas nama rasa cinta dan kasih sayang ke anak, apa masih baik? Yaah silakan dijawab sendiri yaa… 🙂 Jelasnya, tidak ada kekuatiran tertentu pada diri saya mengenai kebutuhan-kebutuhan ini, selama ini memang kebutuhan lho yaa… bukan yang dibutuh-butuhkan.
Membayangkan cerita orangtua saya yang waktu saya lahir belum punya pendapatan tetap yang memadai sehingga hanya berbekal tekad untuk melahirkan anak dan uang seadanya pun tetap bisa memberikan nilai lebih selain selimut lembut berharga mahal yang tidak pernah ada dalam cerita. Bapak waktu itu pun tidak membawa sehelai kain untuk berjaga-jaga. Akhirnya, proses melahirkan saya benar-benar sangat sederhana. Termasuk kemudian cerita Bu lek dan Mbah yang membantu pengasuhan. Jauh dari kesan mewah dan mahal. Secara waktu itu penghasilan rutin Bapak adalah dari sukwan di SMP dan ibu masih membantu orangtuanya mengolah sawah. Saya yakin, Ibu saya sampai sekarang tidak tahu ada benda bernama stroller. Perlengkapan bayi ala Beliau hingga sekarang masih setradisional gedong, guritan, popok kain dan jarik warna merah berbatik naga. Sesederhana itu kira-kira barang kebutuhan bayi yang saya pelajari.
Lain lagi kalau membahas yang non-materi. Ini seperti menelan pil pencahar. Bisa mulas kalau tidak menemukan jalan keluar yang memang tidak “segampang dan segamblang” melahirkan itu sendiri. Belakngan saya mulai membatin dengan manusia kecil di dalam rahim. Apakah mengajarkan kebaikan saja sudah cukup untukmu kelak? Atau kamu mau belajar lebih ber-agama? Apa yang membuatmu berkecukupan untuk menjadi manfaat bagi semesta dan bagi sesama? Cukupkah kasih sayang dan cinta itu sendiri sebagai bekal? Ataukah sya harus membekalimu dengan hal-hal logis dulu sambil menyuapi dengan kasih sayang? Saya pernah punya kekuatiran berlebih soal memandikan bayi baru berusia hari, mengurusnya sendiri dan membuat perawatan di hari-hari awal pasca persalinan telah benar. Tapi itu tidak seseram ketika berpikir tentang nilai hidup mana yang akan saya pelajari bersama dia.
No defense. Cuma bicara jujur di tulisan ini. Mungkinkah saya mengajarkan dia seperti saya mengajari diri saya sendiri tentang nilai? Berjalan, berputar, tersesat, kembali ke titilk nol, dan mulai lagi? Seperti siklus meski pada setiap nilai mengajarkan kebaikan. Atau mungkin, kembali ke satu agama yang utuh adalah pencerahan? Seperti yang selalu saya dambakan. Iya, kembali melakoni dengan utuh islam sebagai agama juga nilai yang saya pilih sendiri (lepas dari memang saya dilahirkan di keluarga islam), sehingga kelak jika pun manusia kecil ini memilih jalan lain dia masih punya rumah untuk selalu pulang.
Kemudian, siapkah saya dan suami dengan jalan ini? Memaksa diri untuk bisa, lebih baik dari pada menghindar karena takut akan suatu komitmen, bukan? Kita memilih menjadi orang tua tapi kita tidak memilih untuk bertanggungjawab. Agama bukan jalan yang mudah dan murah, kita coba mulai dengan ikhlas yaa…
P.S Ibu dan Bapak menunggumu manusia kecil penggemar music patrol ala ramadhan.