TELAPAK TANGANMU

Pinjamkan telapak tanganmu,

Kulukis hujan

Sehingga jarum waktu akan berputar mundur dengan sendirinya

Aku kembali pada semula, seekor kumbang yang bergantung di alang-alang

Berayun, ditimang air yang berjatuhan

Di atas air, kupandangi diriku yang kecil

Setitik diantara bayangan langit yang memantul di telaga

Di kehidupanku berikutnya,

Pinjamkan aku telapak tanganmu

Kupahat hutan

Sampai ku dengar kau bertanya,”mau jadi apa sekarang?”

Menyenangkan kiranya jadi burung yang terbang

Tapi aku suka menjadi semut

Kecil sekali

Sampai habis usiaku menjelajah reliefmu

Lalu mati diatas puncak salju

Aku sempat dengar kau berbisik,”sudah tahu aku, kenapa kamu jadi semut”

Kupandang saljumu, “supaya badanku yang hitam tidak sulit hilang”

Ketika aku dilahirkan kembali,

Pinjamkan padaku relief yang pernah kupahat di telapak tanganmu

Pada sebuah pohon aku ingin tinggal

Tidak menjadi apa-apa

Berdiam melihat hal indah dari sana

Kau lihat sayangku,

Seekor burung menukik ke telaga

Dari bulunya memercik air yang membangunkan kelinci dan sekawanan anteloph yang sedang minum.

Tertawa dia!

Hey, apakah itu lily? Kecubung? Bunga bakung?

Berselang-seling diantara ilalang

Tempat kumbang kecil menetas dan memulai hidup dari manisnya sesarian

Bah! Cerewet sekali rupanya para siamang yang bergelantungan

Bersorak riuh meneriaki-ku

Mereka bilang aku berbohong

Aku konyol dan irasional

Singkatnya: aku gila!

Karena kuperliahtakan telapak tanganmu

Yang kubuat padanya sebuah dunia

Kapitalisme!

Mereka melempari buah persik hingga aku jatuh

Beruntung!

Seberuntung kau pernah meminjamkan telapak tanganmu,

Kulukis biru padanya

Entah langit atau laut

Aku jatuh dan melayang

Pinjamkan lagi telapak tanganmu

 

Refleksi Sederhana –calon- Orangtua

baby and mom

Terlampaui sudah tri mester pertama yang melelahkan dari jatah 9 bulan 10 hari masa mengandung manusia. Hampir menyentuh 6 bulan di 2 minggu ke depan. Tidak bisa melihat setiap hari memang, sebagaimana seperti yang saya suka tonton di film dokumenternya BBC tentang human birth, betapa ajaibnya dua sel yang secara kontinyu di produksi manusia dewasa (yang jika tidak terjadi pembuahan hanya berakhir di tempat pembuangan semata) mengalami tahapan menakjubkan ketika lebur menjadi satu. Tidak mungkin tidak, setiap perempuan yang mengalami masa kehamilan tidak berkeinginan meraba dan merasa apa yang tengah terjadi di alam di bawah kulit perut yang menjadi semesta awal bagi semua pengetahuan yang akhirnya akan dicapai seorang manusia. Di dalam rahim, seperti sup nebula di jagat raya, proses-proses indah dari hanya dua inti terkecil manusia yang bertemu bisa menjadi milyaran sel yang akhirnya menjadi jaringan dan organ-organ yang secara sangat ajaib bisa mengkoordinasikan diri menjadi keutuhan, menjadi tempat menyimpan semua pengalaman, serta menjadi sebuah pergerakan baru yang nyata diantara manusia lainnya.
Orang bilang, manusia kecil ini mulai semakin terasa dan semakin nyata kehadirannya di dunia setelah bulan ke empat. Tepat setelah beberapa organ vital dasar yang dibutuhkan manusia mewujud sempurna sesuai fungsinya. Lalu, secercah pengetahuan yang dibagi lewat dunia maya juga memberi tahu perempuan tanpa pengalaman ini bahwa manusia kecil yang dia bawa di dalam rahimnya mulai mendengar dan bereaksi ketika usia 6 bulan. Dan sampai saatnya tiba, saya rasa saya semakin bisa merasakan bagaimana dia bukan lagi entitas asing dari dua sel kasat mata melainkan manusia yang bergerak, merespon, dan mulai mempunyai keterikatan paling sederhana dengan saya sebagai sesama manusia. Sebagai ibu dan anak tentunya.
Menjadi Ibu. Begitu seharusnya tajuk tulisan ini saya buat. Isinya long-listing-everything-needed dalam melakoni peran baru yang –insyaAlloh-akan tiba dengan lebih nyata. List ini jika ditulis mungkin akan sangat panjang dan perlu banyak sekali kolom-kolom untuk memisahkan jenis-jenis persiapan menjadi ibu. Tapi saya tidak pandai membuat list semacam list blanja yang akan disetor ke suami atau harus dilakukan secara rutin. Termasuk sepertinya untuk keperluan pasca melahirkan. Lantas, yang akhirnya saya coba jangkau adalah apa-apa saja yang sekiranya terjangkau pikiran saya. Lalu payahnya Cuma ada dua: materi dan yang selain materi.
Banyak sudah liteartur yang membahas tentang keduanya, baik secara gamblang maupun tersirat. Jadi kalau ingin melihat detail apa saja yang membahas tentang keduanya, sangat mudah, semudah menekan sekali atau dua kali klik. Tentang materi, begitu terlahir satu manusia, seolah-olah semua pabrik penyedia barang kebutuhan manusia baru sudah bersekongkol untuk membuat paket kebutuhan itu memang harus ada (baca: harus dibeli) dan harus dipersiapkan. Benar memang, tapi kalau kemudian membuat kita bertekuk lutut pada konsumerisme atas nama rasa cinta dan kasih sayang ke anak, apa masih baik? Yaah silakan dijawab sendiri yaa… 🙂 Jelasnya, tidak ada kekuatiran tertentu pada diri saya mengenai kebutuhan-kebutuhan ini, selama ini memang kebutuhan lho yaa… bukan yang dibutuh-butuhkan.
Membayangkan cerita orangtua saya yang waktu saya lahir belum punya pendapatan tetap yang memadai sehingga hanya berbekal tekad untuk melahirkan anak dan uang seadanya pun tetap bisa memberikan nilai lebih selain selimut lembut berharga mahal yang tidak pernah ada dalam cerita. Bapak waktu itu pun tidak membawa sehelai kain untuk berjaga-jaga. Akhirnya, proses melahirkan saya benar-benar sangat sederhana. Termasuk kemudian cerita Bu lek dan Mbah yang membantu pengasuhan. Jauh dari kesan mewah dan mahal. Secara waktu itu penghasilan rutin Bapak adalah dari sukwan di SMP dan ibu masih membantu orangtuanya mengolah sawah. Saya yakin, Ibu saya sampai sekarang tidak tahu ada benda bernama stroller. Perlengkapan bayi ala Beliau hingga sekarang masih setradisional gedong, guritan, popok kain dan jarik warna merah berbatik naga. Sesederhana itu kira-kira barang kebutuhan bayi yang saya pelajari.
Lain lagi kalau membahas yang non-materi. Ini seperti menelan pil pencahar. Bisa mulas kalau tidak menemukan jalan keluar yang memang tidak “segampang dan segamblang” melahirkan itu sendiri. Belakngan saya mulai membatin dengan manusia kecil di dalam rahim. Apakah mengajarkan kebaikan saja sudah cukup untukmu kelak? Atau kamu mau belajar lebih ber-agama? Apa yang membuatmu berkecukupan untuk menjadi manfaat bagi semesta dan bagi sesama? Cukupkah kasih sayang dan cinta itu sendiri sebagai bekal? Ataukah sya harus membekalimu dengan hal-hal logis dulu sambil menyuapi dengan kasih sayang? Saya pernah punya kekuatiran berlebih soal memandikan bayi baru berusia hari, mengurusnya sendiri dan membuat perawatan di hari-hari awal pasca persalinan telah benar. Tapi itu tidak seseram ketika berpikir tentang nilai hidup mana yang akan saya pelajari bersama dia.
No defense. Cuma bicara jujur di tulisan ini. Mungkinkah saya mengajarkan dia seperti saya mengajari diri saya sendiri tentang nilai? Berjalan, berputar, tersesat, kembali ke titilk nol, dan mulai lagi? Seperti siklus meski pada setiap nilai mengajarkan kebaikan. Atau mungkin, kembali ke satu agama yang utuh adalah pencerahan? Seperti yang selalu saya dambakan. Iya, kembali melakoni dengan utuh islam sebagai agama juga nilai yang saya pilih sendiri (lepas dari memang saya dilahirkan di keluarga islam), sehingga kelak jika pun manusia kecil ini memilih jalan lain dia masih punya rumah untuk selalu pulang.
Kemudian, siapkah saya dan suami dengan jalan ini? Memaksa diri untuk bisa, lebih baik dari pada menghindar karena takut akan suatu komitmen, bukan? Kita memilih menjadi orang tua tapi kita tidak memilih untuk bertanggungjawab. Agama bukan jalan yang mudah dan murah, kita coba mulai dengan ikhlas yaa…
P.S Ibu dan Bapak menunggumu manusia kecil penggemar music patrol ala ramadhan.