“Hantu yang Hidup dalam Pikiran”

Menjelang 30 September 2017.

Saya Devi. Saya adalah seorang istri, dan ibu seorang anak perempuan. Jujur saja, saya tidak terlalu ambil pusing dengan setiap tanggal yang berlalu. Entah itu tanggal berwarna hitam, merah, bahkan tanggal perayaan ulang tahun saya sendiri. Lalu tiba-tiba begitu banyak posting di ruang public tentang 30 september yang memaksa ketertarikan saya membacai satu persatu laman tautan atau copas yang menjadi status. Apa yang saya baca, tentu tidak jauh berbeda dengan yang dibaca orang-orang belakangan (di bulan September ini).

Hobi saya 7 tahun terakhir adalah mendengarkan cerita dari laki-laki yang sekarang saya nikahi, bapak dari putri tunggal kami. Awalnya, ketika saya meminta dia bercerita, makdsud hati ingin disuguhi romantisme, ndilalah buku sejarah beraneka rupa hanyut membentuk sup siap saji di kepalanya. Malangnya saya. Tapi yang paling buruk adalah ketika berhubungan dengan manusia yang menyukai sejarah dan manusia, maka kamu adalah korban yang dikuliti hidup-hidup dihadapannya. Bagaimana tidak? Sebagian besar manusia hidup untuk dilihat hari ini. Lantas jika ada orang lain yang mampu melihat dan mengatakan semua yang menjadikanmu kamu saat ini bukankah itu seperti ditelanjangi? Malu. Tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan jika hari ini kita menjadi lebih baik sekalipun.

Saya pernah (sering kali ya) merasa secara brutal “dotelanjangi” ketika suami saya bertanya tentang akar prilaku saya yang sungguh sangat kentara setelah menikah. Menurutnya, saya bukanlah orang yang agamis tapi saya mentertariki hidup dengan cara relijius. Itu benar. Suami saya sudah memilih seekor ikan dan sekarang dilihatnya darimana ikan ini berasal. Berbeda dengan suami saya yang lahir dan tumbuh di pesisir jawa timur, yang sebagaimana kita kenal merupakan basis penyebaran islam, saya berasal dari sebuah desa di jawa tengah yang kental dengan sebutan abangan. Saya rasa saya tidak perlu malu untuk mengakui bahwa sampai saat ini, tradisi abangan yang mengakar dan lebih dekat dengan Hindu masih dipraktikan meski secara data kami menganut agama Islam. Seperti, budaya pancenan, dimana pada tanggal tertentu diletakkan sesajen di meja makan dengan makanan kesukaan yang diberi pancen (orang tua yang telah meninggal). Awalnya saya menolak, tapi pernah saya merasa ada kedamaian ketika berdiri menatap dupa yang dibakar ditengah-tengah makanan lezat yang di tata di meja. Pada saat yang sama saya diajari bahwa rasa damai yang demikian tak perlu dibenturkan dengan benar salah menurut salah satu cara hidup yang berbeda. Hasilnya jelas tidak sepadan.

Lalu dari mana ketertarikan tentang hidup relijius berbenturan dengan norma asal keluarga besar saya? Jawabannya masa kanak-kanak saya. Saya hidup ditempat yang budayanya mirip dengan budaya di kampung halaman suami saya. Tidak banyak yang saya pelajari selain mengaji dan belajar solat. Mungkin karena cetakan saya adalah anak bengal luar biasa, banyak hal yang tidak bisa saya terima dengan baik tentang konsep dosa dan pahala. menurut pikiran saya dulu, rumit sekali melakukan sesuatu harus berpikir dosa dan pahalanya sebelum berbuat. Terlebih di rumah saya dikenalkan dengan konsep baik dan buruk. Baik dan buruk tanpa implikasi pahala dan dosa. Digabungkan dengan Salah satu hasil didikan Bapak saya untuk menyampaikan pendapat membuahkan sebuah predikat dari salah seorang guru ketika SMP:  Liberal!. Untung waktu itu saya tidak tahu artinya, Haha…

Sekarang? Saya bisa saja kembali menjadi seorang anak ingusan yang bertanya macam-macam atau melontarkan pernyataan dengan vulgar. Kenyataannya saya memilih untuk menikmati pertanyaan-pertanyaan dengan peredam dalam kepala. Lebih  sulit memang untuk tidak melepaskan pikiran kita, apalagi godaan tanggapan di ruang public sangat tinggi. Lantas muncul pertanyaan pamungkasnya: “apa yang sebenarnya kamu cari?” Kedamaian. Dan saya tidak perlu menjelaskan dengan ngotot ke orang lain tentang cara mencipta dan menikmati ruang damai itu. Sebab bukan orang lain, tapi kita sendiri yang menciptakannya. Di mulai dari pikiran kita. Disana kita sendiri yang tahu    harumnya hio yang terbakar dan tipisnya sekat antara dunia nyata dengan alam setelah kematian. Dan sejarah, tinggal sejarah. Siapaun pemiliknya memiliki hak untuk bercerita. Tapi setelah itu?

Advertisements

Sebuah Rumah Tempat Hati Tinggal

“Ketika menjadi perempuan bukan lagi suatu pilihan, tetapi keharusan saya tahu saya telah mengambil keputusan yang tepat. “

Sejauh lima tahun saya menjejaki langkah di sebuah perusahaan yang tidak lagi hanya berupa bangunan dengan akses ekonomi memadai tetapi menemukan juga kualitas hubungan pertemanan disana. Meskipun, kita semua yang pernah ada di sebuah institusi tahu bahwa tidak ada gading yang tak retak, demikian juga sebuah sistem yang dijalankan oleh manusia-manusia. Kadang beberapa kawan sendiri mengesampingkan akal budi demi kepentingan yang.. sudahlah tidak perlu saya panjang lebarkan disini. Dan sayangnya, demi hal-hal yang sulit saya pahami itu semua nilai tidak lagi ada artinya. The worst evil I ever met in this live had said, “it’s as good as you lean on every night” tau deh maksudnya gimana!

Nah! Keinginan untuk melepaskan status sebagai karyawan sudah ada sejak setahun lalu tetapi pembenarn demi pembenaran terus saja muncul hingga akhirnya tiba saja moment—yang akan saya ceritakan berikutnya—“sekarang”-nya. Prosesnya memang tak senyaman menulis kilas balik ini tetapi efeknya tetap baik. Misalnya saja, ketika saya menjadi Ibu Rumah Tangga-selanjutnya saya sebut IRT—saya sadar betul bahwa nilai yang orang lain berikan pada saya tidak lagi pada seragam atau profesi saya di luar, melainkan pada bagaimana semua yang secara alami dan keseharian melekat pada diri saya. Tentu hal ini menjadi sangat menyenangkan dan juga lebih menantang. Bayangkan Tanpa adanya kode etik perusahaan, saya dituntut mengasah ke-pekaan atas norma social yan tidak ada aturan baku tertulisnya.

Kedua, menjadi IRT berarti memiliki akses pribadi ke diri kita seutuhnya. Pernah dengar pepatah yang bilang, ketika kamu punya uang maka kamu kehilangan waktu, sebaliknya, ketika kamu menjauhi uang waktumu akan kembali. Yap! Urusan ekonomi memang penting, tetapi ada kalanya saya merindukan waktu luang. Sekarang ketika “waktu luang” saya kembali saya tidak harus merindukan urusan ekonomi tetapi bisa memulai lagi apa yang saya ingin lakukan dengan sungguh-sungguh. Tuhan itu maha baik, setidaknya dia titipkan satu kelebihan yang bisa jadi bekal kita hidup. Kelebihan saya? Malu ah, nanti saja kalau sudah bisa dinikmati bersama pasti tahu.

Tentang anak, saya bukan satu-satunya ibu yang anaknya merengek-rengek bahkan menangis di pagi hari ketika akan ditinggal kerja tapi rasanya bagi semua ibu sama saja. Kalau sudah begitu, seharian yang produktif pun tidak lagi berkesan baik. Badan di kantor, pikiran ke computer dan angka tapi hati nun jauh di anak. Meskipun saya termasuk salah seorang yang beruntung karena pengasuhan anak saya dibantu oleh adik-adik (meskipun cowok semua), hati seorang ibu tetap saja merindu. Sekarang, ada banyak sekali Pe-Er tentang tumbuh kembang anak yang harus saya tangani dan rasakan sehari-hari secara utuh. Tentu bukan jadi masalah, justru disana saya merasa hidup saya utuh. Dan, kalau Tuhan kasih rejeki lagi saya dah siap buka taman bermain hahahaha…

The Last but not least, when I was home, I knew he was always there. I knew he was home that I ever decided to living with. Trus, apa lagi yang kurang? Tidak ada.

(salam hangat untuk kawan-kawan seperjuangan yang masih mengayuh pedal kahidupan demi keluarga di luar sana)

Anyway, Doesn’t Celine Dion right? 😛

Celine-Dion-quote-housewife-job

Kisah Seorang Kawan

“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia yang semakin miskin”(Pram, Gadis Pantai)gadis-pantai

Di lorong ingatan saya, terdapat sebuah tempat gelap dimana tersimpan beberapa hal yang saya biarkan begitu saja. Tidur pulas disana. Sampai ada satu yang menyeruak sebagai dongeng sebelum istirahat yang menjadi selimut hangat tapi juga menyedihkan bagi saya dan suami saya malam itu. Butuh belasan tahun hingga saya bisa mengurai kesedihan mendalam masa remaja yang ketika itu hanya berupa cerita.

Tahun 2000.

Memasuki millennium baru tidak lantas membuat semua hal serta merta berubah menjadi warna silver dan berkilau. Itu hanya pesta sementara yang disiarkan berulang-ulang oleh media dan membuat para penyimaknya lantas terjebak euphoria sesaat yang palsu. Seorang kuli tetap berangkat kerja memanggul beberapa ton sayur dan berbaki-baki ikan esok paginya, hutang dan penderitaan juga tidak serta merta hilang, apalagi yang kita percayai sebelumnya toh tidak berganti dan terbuang secepat almanac baru yang dipasang dengan suka cita. Di tahun yang sama, aku hampir menandasakan masa sekolah di bangku SD. Sekolahku terpisah lumayan jauh dari rumah yang baru berhasil dibangun Orangtuaku setelah hampir 9 tahun menjadi perantau di pulau kecil dengan pantai-pantai seindah pulau Bali. Namanya Lombok. Berbeda dengan sekolahku yang terletak di pusat kecamatan, rumahku jauh dari kata ramai. Bahkan, untuk satu kecamatan yang sama, lingkungan sekolah dan lingkungan rumah memiliki aksen/dialek bahkan beberapa kosa kata yang berbeda (di sekitar kecamatan dialeknya datar sedangkan semakin jauh dari kecamatan cengkoknya akan semakin rumit).

Tentu saja aktivitas anak-anakku mengikut lingkungan rumah. Menurut pada tradisi dusun yang gemar mengajarkan anak-anak untuk pergi mengaji setiap hari. Menyenangkan tapi penuh konsekuensi, sebab jika ada satu waktu solat terlewat, guru kami akan memukul betis dengan penjalin (terbuat dari beberapa lidi yang di kepang) sejumlah rokaat solat yang kami tinggalkan. Meski sakit tapi tiada dendam tersimpan. Meninggalkan solat bagaikan ingkar janji kata Beliau. Hanya itu ku kira bagian “serius” dari masa anak-anakku. Ya, semua hal yang berhunbungan dengan tempat ngaji adalah hal yang diberi tanda seru berwarna merah. Tapi diluar 2 jam setelah solat magrib, adalah waktu bermain yang menyenangkan dan rasa bahagianya abadi.

Pada masa-masa akhir SD itu aku mulai mengenal beberapa teman yang tidak berasal dari lingkungan dekat rumah. Salah satu diantara mereka bernama Rianah. Kami harus menyebrang kali yang dihubungkan dengan 2 batang bambu utuh yang diikat jika ingin ke rumahnya. Tentu itu tidak sering terjadi. Sebaliknya, Rianah lah yang selalu menyebrang dan mengikuti permainan kami. Seandanya millennium itu seperti jembatan penghubung rumah Rianah dan tempat bermain kami yang bisa dengan mudah kami sebrangi kembali untuk menuntaskan permainan atau bahkan mengubah aturan sekehedak hati kami, tentu tidak ada kebahagiaan anak-anak yang bisa berubah menjadi kenangan—kenagan menyedihkan yang kumaksud disini.

Tidak semua hal seindah yang kita inginkan.

Barangkali karena aku adalah anak perempuan pertama yang berasal dari keluarga guru sehingga aku tidak merasakan betapa untuk pindah bangku sekolah ke SMP adalah hal yang istimewa. Bagiku itu adalah keniscayaan. Sampai akhirnya sahabatku sendiri yang mencabik-cabik keniscayaan itu sebagai sesuatu yang mahal dan tidak terbeli. Namanya Ani. Kakaknya Ana tidak melanjutkan ke jenjang setelah pendidikan dasar. Dia punya seorang adik laki-laki yang tahun depan akan menyusul kelulusannya dari sekolah dasar. Tidak boleh ada biaya tambahan, cukuplah anak perempuan bisa membaca dan berhitung sederhana. Berhari-hari mendung itu tidak hilang. Ani pun sudah tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk melanjutkan sekolah jika orangtuanya hanya menyediakan satu tiket utuh pendidikan lanjutan setelah SD hanya untuk satu-satunya anak laki-laki di rumah itu. Lalu apa yang dinanti? Tentu saja semburat keperawanan yang bisa membayar lunas hutang pada orang tua (ketika ada pihak laki-laki yang meminta kawin). Tapi Ani selamat dari keharusan untuk tinggal di rumah menunggui tungku yang menghanguskan masa mudanya menjadi abu. Banyak pihak yang mendorong, meski pun tidak bersekolah di SMP Negeri, Tsanawiyah adalah tempat yang membanggakan. Matahari membawa kebahagiaan kembali.

Hingga kami mulai disibukkan dengan bulan-bulan pertama sekolah, berita itu dating bagaikan bau busuk yang ingin segera dihalau dan dimusnahkan. Rianah dinikahkan. Singkat dan membungkam. Itulah saat aku tidak memahami dan begitu sulit menerima kaidah yang membolehkan temanku yang seharusnya mengikuti orientasi sekolah, merapikan buku dan mengikat sepatu serta menjabat tangan kawan-kawan baru bertekuk pasrah pada sebuah ikatan yang tidak jelas untuk anak seusia kami. Bahkan untuk perempuan seusia saya saat ini, pernikahan bukan hal yang sederhana. Kekagetan di awal ketika menemukan orang asing di tempat tidur, bersikap layaknya istri dan belajar menekuni seorang suami serta kehidupan rumah tangga bukan hal yang sederhana. Bayangkan itu harus dilakoni seorang gadis kecil berusia 12 tahun. Dan kabar lebih buruk yang kudengar berikutya adalah dia menjadi istri ke-sekian dari laki-laki itu. Bukan aku membenci poligami, seandainya saja tidak ada oknum yang dengan “egois” memanfaatkan ketidakberdayaan demi kesenangan sesaat.

Begitu terus berbulan-bulan sampai bulan ke-empat ketika akhirnya dia pulang ke rumah orangtuanya. Sayangnya, tidak ada lagi Rianah gadis seusia kami yang bermain dan bergosip tentang kekonyolah anak laki-laki dan merundingkan rasa iri yang sama atas cemerlangnya seseorang di sekolah. Setelah begitu saja talak diucapkan, berubah juga statusnya menjadi seorang “janda”. Bisakah anda membayangkan menyandang status janda diusia 12 tahun? Rasa sedih, sakit dan marah itu masih terasa sampai sekarang. Dan semakin menjadi-jadi ketika saya sudah menikah dan punya seorang putri.

Bagian paling buruk, dia tidak lagi menyapa teman-teman sebayanya yang masih ingusan menenteng sepatu ke sekolah. Terakhir kulihat dia, sedang menunggu angkutan umum. Bisa kuingat dengan jelas saat aku membandingkan diriku dengan apa yang kulihat padanya. Pakaian yang menonjokan dada yang baru—dan dipaksa—mekar, celana cut bray yang sedang ngetren masa itu untuk orang dewasa, dan sandal wedges tebal, serasi dengan pulasan bedak tebal dan gincu merona. Wajahnya tenang, sambil memalingkan pandangan. Hatiku hancur. Patah hatiku yang pertama.

PERJALANAN (LUMAYAN JAUH) PERTAMA RAHA DAN SAYA

                   “Jika tidak bisa membaca buku, pergilah ke suatu tempat yang jauh.”

Minggu lalu saya tidak membaca buku sama sekali. Sebagai ganti resensi, saya ceritakan kegiatan menarik saya dn anak perempuan tercinta. Yap! Kami pergi jalan-jalan berdua. Memanfaatkan agenda kantor yang mengadakan rapat tahunan tim Business Risk di Jogja, saya menawarkan ke suami untuk membawa serta Raha dalam perjalanan kemarin. Suami tidak menolak. Lalu, berangkatlah dua perempuan ini ala kadarnya. Sebelumnya, suami akan “mengantar” sampai Surabaya, karena satu dan lain hal (baca: kelelahan dan saya tidak mau bangun), jadilah tetap berangkat dengan tiket yang disediakan kantor siang harinya.

Bertolak dari Jember pada hari kamis menuju stasiun transit di Gubeng, Surabaya kami melanjutkan perjalanan dg kereta yang menurut saya lebih nyaman. Sempat hampir akan tertinggal kereta karena petugas loket minta saya mengantri di antrian Go Show untuk memintakan tiket Raha. Alhasil, satu menit diatas kereta kemudian peluit panjang terdengar. Malang tidak dapat dihindari, saya kehilangan salah satu “teman” Raha: boneka beruang kecil yang saya “cantolkan” di tali tas. Jatuh entah dimana. Raha tidak saya bawa ke Jogja, karena ada Uti dan Kakung di Solo yang sudah siap dan berbahagia mengasuh dia untuk 2 hari selama saya “sibuk” mendengarkan ceramah (andaikan saya yang membayar, pasti saya memilih colut hehehe)

Dua hari di solo, kami mengakhiri liburan dengan kembali ke Jogja—terbang ke Surabaya—dari stasiun sidoarjo—ke Jember. Ibu saya boleh berkomentar tentang cara saya mengasuh anak, tapi beliau tidak bisa berargumen ketika melihat saya menggendong Raha di depan, Ransel di belakang dan melingkarkan tas kecil berisi barang sangat penting (tiket, botol susu dan dompet) di bahu.

Seseorang di stasiun Sidoarjo bertanya setelah mengamati penampilan saya dari atas ke bawah, “Mbak sendirian?”

Saya menjawab,”Tidak, saya berdua.” (Dan ini sangat menyenangkan.)

Sedangkan untuk manfaatnya, saya kira website dan buku parenting lebih ahli. (ngeles)

DEDIKASI YANG BERNILAI TINGGI

Bagi penggemar buku anak-anak pasti sudah tidak asing dengan nama Jackie atau Jacquelene Wilson. Wanita asal Bath, Inggris ini telah menulis lebih dari 100 judul buku anak-anak yang best seller di Britania Raya. Saya pun salah satu orang yang menggemari bukunya, meskipun untuk mengoleksi seluruh judul yan dia tulis baru berupa cita-cita. Karakter anak-anak yang ditulis Jackie dalam tiap bukunya mampu membuat saya—orang dewasa ini—kembali merasakan perasaan anak-anak saya hadir. Lugu, polos tapi pada saat itu merupakan sesuatu yang sungguh kompleks. Dalam masing-masing bukunya, Jackie tidak hanya mampu menarik perasaan empati anak-anak sebagai pembaca, namun juga mampu memberikan bingkai lain pada orang dewasa untuk melihat cara anak-anak memahami suatu persoalan dan mencari jalan keluar sesuai dengan apa yang dia pahami. Hebatnya lagi, karena ini adalah dunia anak-anak, cara mereka memahami dan menyelesaikannya sungguh sangat ajaib. Seperti kata Andy—salah satu tokoh yang ditulis oleh Jackie dalam “suitcase kids”—EASY-PEASY! SIMPLE-PIMPLE!

Tiga dari yang saya miliki dan menyentuh sekali:

The Story Of Tracy Beaker

Tidak hanya dalam buku, karakter tracy Beaker kini muncul di drama keluarga di salah satu stasiun TV di Iggris. Karakter Tracy Beaker adalah karakter anak perempuan yang “sedikit sulit dipahami” dalam dunia nyata. Dalam bukunya sendiri digambarkan bahwa tidak banyak orang yang “berhasil” bersama Tracy. Sebutlah 2 pasangan yang sempat menjadi orangtua asuh (foster parent) untuk Tracy selagi ibunya belum menjemputnya, gagal berkompromi dengan begitu sensitifnya perasaan Tracy (yang berefek pada serangkaian tindakan di luar kendali). Sebagai salah satu anak yang paling tua di “penampungan”, Tracy sangat berusaha menunjukkan bahwa dia layak untuk diasuh oleh pasangan yang membutuhkan anak. Pasangan pertama tidak membuat Tracy bahagia sebab menanggapnya sulit diatur dan melakukan “kekerasan fisik” pada Tracy. Sedangkan pasangan kedua yang usianya jauh lebih muda dari pada Tracy, mengasuh Tracy hanya untuk “pancingan” agar segera memiliki keturunan. Begitu, Si Istri hamil, mereka mengembalikan Tracy ke penampungan. Tentu saja Tracy memohon untuk tinggal bersama mereka, dan berakhir dengan Tracy menutup hati setelah tahu dia tidak diinginkan.

Di Shelter, tracy akhirnya punya kegiatan baru yang sangat menyenangkan: menulis. Dia menulis semuanya siang-malam dan kapan pun. Kegiatan ini tidak hanya membuat Tracy “lebih terkendali” tapi juga membuatnya bertemu dengan seorang penulis yang setelah berkirim surat dengannya beberapa kali, kemudian tidak bisa menolak Tracy yang memintanya menjadi pengasuh selagi ibunya kembali untuk menjemputnya.

The Suitcase Kids

Kalau anda adalah seorang anak yang dibesarkan dari orang tua yang bercerai kemudian masing-masing memiliki keluarga baru, pasti buku ini akan mengembalikan kenangan betapa masa kecil sungguh tidak mudah tapi anda berhasil melaluinya. Tidak heran, The Suitcase Kids memenangkan salah satu penghargaan popular untuk penulis anak. Gaya menulis tiap bab-nya dibuat urut sesuai dengan alphabet, unik bukan?

Back to story! Andy adalah seorang anak yang dibesarkan di 2 keluarga (masing-masing adalah keluarga ibu dan ayahnya setelah bercerai). Ditemani seekor Radish, Andi melalui masa-masa buruk pertengkaran dan berkali-kali konseling keluarga. Hari buruk itu dating, orang tuanya bercerai dan meninggalkan semua yang pernah dimiliki Andy sebagai kenangan. Karena Andy masih terlalu kecil dan takut untuk memilih pilihan paling sulit antara tinggal bersama Ayah Atau Ibunya, maka sebagai penyelesaian Andy tinggal bersama keluarga baru ibunya satu minggu lalu minggu berikutnya ayahnya kan menjemput untuk tinggal bersamanya dan keluarga baru ayahnya. Dari laki-laki yang dinikahi ibunya Andi punya tiga saudara tiri sedangkan dari keluaga baru ayahnya Andi punya saudara tiri kembar. Bukankah tidak mudah untuk berbagi segalanya?

Tapi, yang paling sulit untuk Andy adalah menghapuskan kenangan bahwa dia pernah bahagia tinggal bersama di sebuh rumah bersama ayah-ibu –radish dan dia seorang. Ketika pie blackberry yang dipanggang ibunya begitu lezat.

The Lottie Project

Tidak se-sedih dua cerita sebelumnya, The lottie project terasa lebih membakar semangat. Karena belum tuntas membaca, gambaran singkatnya adalah tentang seorang anak perempuan bernama Charlie yang sedang dalam proyek mengerjakan tugas Victorian History dan mengambil sudut pandang seorang anak perempuan yang terpaksa bekerja sebagai nanny di rumah orang kaya. Pada saat yang sama, Charlie yang tinggal dengan ibunya mengalami masalah ekonomi karena perusahaan dimana Joe (ibu Charlie) bekerja bangkrut dan mem-PHK semua karyawan. Tidak ingin kehilangan tempat tinggal layak yang mereka berdua perjuangkan dan tidak mau kehilangan harga diri karena harus kembali bergantung ke orang tua Joe, joe menerima beberapa pekerjaan sekaligus sebagai day cleaner dan seorang Nanny. Charlie pun membantu Joe dengan mengiklankan dirinya sebagai “pesuruh” dan apa pun yang bisa dikerjakan oleh anak kelas 6 SD. Seru sekali (tapi belum selesai)

Kalau sudah mulai baca novelnya Jackie satu saja, bakalan susah untuk menolak yang lainnya. Dan buat yang suka banget sama dunia anak, psikologi anak dan keluarga. Buku ini yummiiee!!! Gimana enggak Yumiie, 70 tahun sudah usia Jackie, bayangkan apa yang telah dia lalui dan dedikasinya demi anak-anak diseluruh dunia lewat buku cerita.

 

 

Mrs. Injury Time

strona2

 

Siang ini saya mengingat seseorang. Namanya I wayan Parwadi. Seorang wali kelas yang juga guru fisika di SMP dulu. Saya mengingat beliau setelah ngos-ngosan bolak balik dari unit ke rumah sampai ke KFO (kantor fungsional operasional).
Berawal dari meninggalkan suami dan anak di rumah, saya berangkat lebih awal ke unit yang hanya butuh 10 menit perjalanan via motor. Jam 8 kurang 5. Saya girang karena bisa dating sedikit lebih awal dari yang dikatakan tepat waktu, baru mulai memutuskan memulai rapat pagi untuk over view pendampingan uit, satu karyawan belum dating dan yang lain memutuskan untuk menunggu sebab ybs tidak pernah terlambat. Sudah lebih dari 30 menit menunggu, rupanya kali terlambat juga, rapat dimulai. Usai meeting saya, agenda dilanjutkan dengan beberapa kegiatan urgent tim bisnis sampai pukul 10.05. Tepat pada saat saya melihat waktu di monitor lap top saya teringat anak dan suami di rumah. Tidak ada susu formula yang tersimpan di rumah sebab sehari-hari si kecil hanya diberi susu formula jika di bawa ayahnya ke toko. Sambil minta ijin ke ATM, saya sempatkan memebli susu kaleng dan mengantarkan ke rumah. Pintu samping rumah terbuka, tapi tidak ada tanda-tanda suami dan anak saya. Celingak-celinguk di sekitar rumah—barang kali si kecil dibawa ayahnya ke warung belakang kompleks—nihil. Saya kembali kedalam rumah, memastikan beberapa barang seperti kamera yang setiap hari menjajari koleksi buku masih ada, menelusuri kamar belakang sampai gudang dan memastikan tidak ada seseorang atau kucing tetangga yang tertinggal di dalam. Saya bergegas kembali ke unit menjemput OJT (2 minggu ini saya menghandle satu OJT dari banyuwangi). Lalu memacu kendaraan ke toko suami. Taraaa….. si kecil baru reda dari tangisnya, minta disusui. Naluri ibu mana yang kuasa menolak? Meski niatnya hanya mengambil kunci rumah dan mengantarkan susu formula.
Dan setelah sekitar setengah jam saya menemani anak saya, cuss… ke KFO tapi harus mampir ke rumah untuk cek lagi sebelum mengunci pintu. Sampai di KFO jam 10.45 dengan gembira, hingga tiba di ruang bersama sudah ada dua rekan kerja yang bermuka tegang. Tambah bingung dan tegang melihat saya bungah.
Rekan A: “Mbak Devi sudah selesai?”
Saya: “Sudah mbak, tadi pagi Cuma over view”
Rekan B:” refreshmentnya sudah?”
Saya:” haaaa….. “
Mereka panik seketika. Rekan A bilang sudah menghubungi ojt saya untuk mengingatkan saya supaya buka email, lalu di hp ada rekan kerja di kabupaten tetangga yang sudah berkali-kali telepon dan akhirnya sms juga dengan all caps lock isinya” MBA, ADA REFRESHMENT”.
10 soal perbankan syariah, 15 menit. Bukan sombong tapi ini bakat khusus mengarang indah. 2 rekan yang sudah sejam setengah mengerjakan melongo, sempat ditawari contekan juga. Akhirnya lega setelah email jawaban terkirim ke manaher dan head. Mereka sakit mata karena membaca huruf cacing? Pasti. Dan bukan Cuma sekali. 😀
Seingat saya, waktu juga yang menjadi alasan kenapa di assessement manajer lalu saya dinyatakan tidak lebih siap dari salah satu kandidat. Ya, ketika yang lain sudah stand by jam 8, saya dengan sangata tepat waktu dating jam 9. Sesuai jadwal dimulainya tes pertama. Barangkali itu juga yang membuat head saya ill feel. Lalu mengirim laporan mingguan di detik-detik terakhir juga disinggung manaher sebagai salah satu sebab saya harus mengulang assessment (catatan: jika diberi kesempatan lagi tentunya).
Apakah dengan mengirim laporan di detik-detik terakhir membuat saya menjadi orang yang malas? Tidak. Atau orang yang sangat panic? Sama sekali tidak. Tapi, yang terlibat dengan saya tidak mungkin tidak membuat penilaian tentang bagaimana saya menghandle waktu terutama waktu kerja. Di setiap unit, saya selalu bilang dengan serius: SAYA TIDAK SUKA LEMBUR. SAYA TIDAK MAU BEKERJA DI LUAR KESEPAKATAN DENGAN PERUSAHAAN. Sebagai imbasnya, tentu, jangan menghambat pekerjaan saya hehe… 8 jam dalam sehari dengan satu jam istirahat siang untuk ishoma. Dengan target yang tidak sedikit, setiap menitnya sangat penting. Apalagi jika sudah berkeluarga seperti sekarang. Tiap menit adalah hasil yang terukur (serius sekali? Iya, karena laporan audit juga bukan hal yang sepele. Semakin serius ya? Haha..).
“Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri” itulah yang dikatakan I wayan Parwadi yang juga guru Fisika pertama saya yang pasti telah lama bergulat dengan teori relativitas Einstein. Benar kita disediakan 24 jam dalam sehari tapi masing-masing bergerak menggunakan waktunya sendiri-sendiri. Saya dengan waktu dan kegiatan saya, Anda dengan waktu dan kegiatan anda. Meski Pak Wayan menambahkan kalimat perfeksionis dimana waktu yang kita pergunakan menentukan hasil yang kita dapatkan, tetap saja, tidak perlu menggunakan jam tangan orang lain untuk memiliki satu hari kita sendiri. Hari ini? Saya sudah selesai dan memasuki timeless moment bersama anak dan suami. See You again Monday!

Selamat Tahun Baru dan Selamat Datang MEA

 

 

happy-new-year-2016-wallpaperBagaimana tahun baru anda? Seronok? Gempita? Beragam perayaan yang bisa kita saksikan sebagai symbol penyambutan tahun yang baru. Mulai dari perayaan artificial sejenis terompet, kembang api, lampu pijar dan sorak sorai menyambut awal hari yang bisa jadi para penyambutnya ini memulai dengan bangun kesiangan setelah konvoi atau nobar semalam suntuk. Awal yang bagus untuk memulai? Bisa jadi, sebab hanya terjadi setahun sekali ketika kantor membolehkan masuk setengah hari. Di lain pihak, ada juga yang sejak jauh hari telah menyiapkan rentetan tulisan berupa resolusi untuk dicapai di tahun yang baru. Seperti awal dari semua hal, para pembuat resolusi yakin dan senang menyambut suatu “awal” dimana banyak impian bisa lagi diprogreamkan untuk diwujudkan dalam satu putaran tahun yang akan berjalan. Tidak ada yang buruk dari membuat resolusi, bahkan tulisan di secarik kertas atau angan-angan ini mampu membangkitkan semangat untuk kembali lebih produktif dan meningkatakn kualitas hidup. Sejatinya seperti itu bukan tujuan kita membuat resolusi, bukan hanya sekedar tulisan untuk menghapus target tahun lalu yang belum sempat terlaksana atau bahkan justru menambahi eban hidup kita.
Lantas, apa rencana baru anda di awal tahun yang baru? Bisa jadi, punya pasangan hidup yang baru, mobil baru, rumah baru, atau masih menambal sulam resolusi tahun lalu “untuk hidup yang lebih baik”? tidak masalah, sebab tidak semua hal harus dicapai seluruhnya dalam satu tahun. Karena bagi saya sendiri, resolusi tahun ini adalah kelanjutan dari proses hidup tahun lalu. Apa yang belum selesai diselesaikan, apa yang masih jauh dikejar lagi. Namun jika tidak ingin tergeser atau bahkan tertinggal di lomba marathon ambisi, tahun ini sebaiknya kita mulai bersegera. Sebab apa? Di tahun 2016, Indonesia telah membuka pintu perdaangan bebas untuk kawasan Asia Tenggara yang selanjutnya kita sebut sebagai MEA (Masyarakat Ekonomi Asean/Asean Economic Community), dimana salah satu indicator penting dari MEA adalah perdagangan bebas di Negara-negara yang ada pada satu kawasan dan berkembangnya masyarakat yang mandiri terutama secara ekonomi. Bisa kita bayangkan bagaimana strategisnya Indonesia sebagai pangsa bagi industry dari Negara-negara tentangga yang luas wilayah dan jumlah penduduknya belum menandingi Indonesia. Diperkuat lagi dengan dihapuskannya non-zero tax untuk Negara yang meratifikasi hasil pertemuan di Malaysia akhir tahun 2015 yang lalu, tentu harga barang yang beredar akan bisa lebih murah. Salah satu keuntungan di pihak Indonesia memang adalah jumlah penduduk yang tinggi sebab akan meningkatkan arus perputaran uang dengan adanya berbagai pembelian, tapi jika tidak diimbangi dengan produktivitas yang sama, tentu bukan indikasi yang baik.
Salah satu tujuan dibukanya MEA adalah tentu saja untuk meningkatkan pertumbhan ekonomi di Negara-negara satu kawasan yang salah satu caranya memang harus dengan “paksaan” untuk berani berkompetisi. Disemu abiding, Indonesia tidak boleh segan dan harus mulai berani untuk mengandalkan produk dalam negeri. Misalnya untuk pangan, mungkin diversifikasi pangan pokok bisa dimulai tidak hanya di Indonesia bagian timur agar kita tidak lagi terlalu bergantung pada impor beras. Kemudian di sector kelautan misalnya, selain penegakkan hokum laut tentu masyarakat pesisir juga sangat membutuhkan agen distribusi hasil laut yang sehat dan mampu menawarkan harga beli hasil tangkapan yag dapat membantu kesejanteraan para nelayan. Struktur dan infrastruktur perlu lagi dibenahi, serta tidak lupa sumber daya manusianya. Bayangkan jika pemerintah sudah menggelontorkan milyaran rupiah untuk memeperudah jalur distribusi tapi masih saja ada oknum lintah darat, bagaimana?
Tidak perlu takut untuk bersaing, Orang lama bilang “the power of kepepet” itu tidak bisa diabaikan. Bayangkan kita begitu kepepetnya tapi harus bisa beli ini dan itu, bisa meraih ini dan itu, tentu menabung bukan solusi tapi bagaimana membuat putaran uang menjadi pusaran yang lebih besar bisa jadi jawaban. Memulai atau mengembangkan usaha adalah solusi efektif di tengah krisis. Semakin hebat tekanannya, maka semakin handal seorang melakukan pengendalian diri dan memicu setiap lobus di otaknya untuk memunculkan ide kreatif yang harus segera dieksekusi. Intinya, jangan takut sebelum memulai. Jangan malu juga. Bersemangat. Sebab siapa yang semangatnya paling besar , sebenarnya telah memenangkan pertadingan sebelum start.

SARDEN DALAM KALENG

Kejutan kecil hadir di pernikahan kami yangbaru seumur jagung. Tidak terbayang rasa lelah yang tidak terlalu diperhatikan akhirnya menggerogoti kekebalan fisik kami berdua. Jatuh sakit di waktu yang bersamaan. Setelah sehari yang terasa terlalu panjang dan melelahkan, akhirnya kami hanya saling pandang tanpa kuat membelai atau menggosoki punggung masing-masing dengan cairan kayuputih. Tidak ada ucapan kata apa pun, kami sudah tidak berkeinginan pada seduhan the panas atau bahkan saling mengahangatkan. Malam itu, Cuma ada senyumnya—sehyum kecil yang aku tahu pernah dikagumi banyak perempuan—dan rasa syukur bahwa kami berdua masih bisa pulang. Meski tidur dengan nyeri punggung dan terbangun berkali-kali dalam satu malam tanpa bisa saling memberikan bantuan lebih.
Keesokan paginya, suami sudah berisik. Masih jam lima sudah pula dia nyalakan lampu kamar yang sontak langsung membuyarkan mood tidur. “Devi! Devi! Aku sudah sehat!”
Karena saya tidak segera beranjak, Dia mulai gaduh di dapur. Sempat saya berpikir terlalu mulia kalau-kalu suami mencuci semua piring kotor yang tidak terurus 2 hari semenjak kami tidak sehat. Semakin gaduh dia berusaha unuk membuat saya bangun, semakin enak hati saya untuk tidur. Sampai dia mengeluarkan sepeda motor dan entah kemana. Singkatnya, suami kelaparan. Satu-satunya peralatan yang dibersihkan adalah panci rice cooker dan panci kecil yang dipakainya masak sarden. Lalu, itu menjadi pagi pertama dia memasak sarapan untuk (kami).
Sarden. Saya tidak suka sarden dalam kaleng. Suami pun sepertinya hanya mempertimbangkan sisi praktis dari makanan yang dia olah. Lama kami memandangi sisa sarden di panci yang hanya terjumput dua ekor.
“sarden ini mahal. Satu kalengnya harga 8 ribu. Isinya ada 6 ekor. Dikurangi harga bumbu-bumbu, jadi satu ekor harganya seribuan. Mahal banget.”
“kau pintar berhitung. Aku gak pernah merasa harus menghitung harga satu ekor sarden dalam kaleng.”
Tawa bahagia mengembang sejadinya yang juga menandai kami berdua sudah sangat sehat.
Ngomong-ngomong tentang sarden dalam kaleng yang harganya mahal banget, saya langsung ngeri membayangkan membeli ikan kecil (yang saya anggap setara dengan pindang) seharga 8 ribu rupiah. Pasalanya, di Pelabuhan Puger, ikan sejenis yang jauh lebih segar di jual dengan 10 ribu rupiah satu ember kecilnya. Segar dan murah. Tanpa bahan pengawet. Trus apanya yang mahal? Kalengnya kali ya?
Tidak jauh-jauh dari ikan, di minggu yang sama berita tentang pengusiran etnis muslim Rohingnya menjadi top news di beberapa harian dan media. Hampir sebagian besar dari etnis ini akhirnya melarikan diri ke laut. Sama seperti kebiasaaan hidup mereka yang bergantung pada gulungan ombak dan kayanya ikan di samudra. Sayangnya, keberadaan mereka jika kembali ke daratan tidak pernah diakui. Tragedy rohingnya ini bukan sekali dalam pekan ini saja pernah terjadi, bahkan telah berkali-kali hingga bantuan dari PBB dan aktivis kemanusiaan pun telah lama mendarat diantara mereka. Sekali ini, media sukses menjadikannya headline.
Saya tidak lagi berminat membicarakan tentang etnis maupun ideology atau menebak-nebak dari sekian banyak berita siapa gerangan yang menjadi kambing hitam atas persoalan ini. Semua tentang ideology dan teritori biasanya menjadi blunder tersendiri. Sebut saja tentang holylandnya Israel. Selesaikah itu hingga kini? Tidak. Panjang dan semakin memebelukar saja sepertinya. Sama kira-kira tentang rohingnya, berawal dari pengusiran satu ke pengusiaran lainnya. Yang tidak pernah saya pahami adalah kenapa manusia sulit sekali berbagi? Selalu saja ada lapisan tersendiri bagi etnis, agama atau bahkan gender. Di Indonesia, tidak ada Negara asing yang terlalu menonjol sebagai ras yang perlu dijadikan isu strata social, maslahnya malah dari etnis-etnis di dalam Negara itu sendiri. Tentang ke-jawa-an yang kadang terlalu dilebih-lebihkan. Di Malaysia, lebih santer lagi kita tahu kalau ada sekat antara melayu, cina dan india. Lalu di belahan bumi lainnya antara kulit putih dan kulit hitam. Antara agama A dan B. Padahal semuanya biasanya Cuma mengacu pada system mayoritas.
Apakah yang membuat manusia lebih berarti adalah karena jumlahnya lebih banyak? Begitu mungkin kalau kita sedang membangun angakatan perang. Tapi dalam level paling sederhana? Bukankah setiap orang ingin terpenuhi hak-hak dasarnya? Lalu dihormati/dihargai keberadaannya? Banyak dari kita menggebu-gebu dan berapi-api ketika menjawab dan melakoni hal-hal untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi begitu dihadapkan pada keberadaan orang lain yang juga sedang berusaha memenuhi kodrat kemanusiaannya, kita lupa. Kita bisa sampai tidak menganggap kalau yang disebelah kita juga berjalan dengan tegak dengan dua kaki. Sekedar persamaan spesies saja kita kadang alpa untuk ingat. Apalagi, mungkin, untuk mempersilakan atau sama-sama melakoni hidup.
Kita tidak berbeda dengan sekumpulan ikan-ikan kecil dilautan yang berenang pada kedalaman yang sama. Untuk plankton, oksigen, sinar matahari dan saling melindungi. Setelahnya, Kalau kita sampai di daratan kemudian beberapa ada di dalam kaleng sedangkan yang lainnya tergeletak di atas daun pisang di pesisir apakah itu membuat kita berbeda? Apakah sebuah tempat, status atau apa pun itu yang melekat pada personal kita menghapuskan hakikat kita sebagai sesama makhluk hidup? Kaleng tetap kaleng. Itu Cuma wadah dengan berjuta label. Saat ikan-ikan yang sama dikembalikan ke laut, taulah kita tidak ada yang berbeda dari satu dengan yang lainnya.
Sarden, lain kali semoga kamu menjadi menu sarapan bersama kabar yang selalu membawa gembira.