Sebuah Rumah Tempat Hati Tinggal

“Ketika menjadi perempuan bukan lagi suatu pilihan, tetapi keharusan saya tahu saya telah mengambil keputusan yang tepat. “

Sejauh lima tahun saya menjejaki langkah di sebuah perusahaan yang tidak lagi hanya berupa bangunan dengan akses ekonomi memadai tetapi menemukan juga kualitas hubungan pertemanan disana. Meskipun, kita semua yang pernah ada di sebuah institusi tahu bahwa tidak ada gading yang tak retak, demikian juga sebuah sistem yang dijalankan oleh manusia-manusia. Kadang beberapa kawan sendiri mengesampingkan akal budi demi kepentingan yang.. sudahlah tidak perlu saya panjang lebarkan disini. Dan sayangnya, demi hal-hal yang sulit saya pahami itu semua nilai tidak lagi ada artinya. The worst evil I ever met in this live had said, “it’s as good as you lean on every night” tau deh maksudnya gimana!

Nah! Keinginan untuk melepaskan status sebagai karyawan sudah ada sejak setahun lalu tetapi pembenarn demi pembenaran terus saja muncul hingga akhirnya tiba saja moment—yang akan saya ceritakan berikutnya—“sekarang”-nya. Prosesnya memang tak senyaman menulis kilas balik ini tetapi efeknya tetap baik. Misalnya saja, ketika saya menjadi Ibu Rumah Tangga-selanjutnya saya sebut IRT—saya sadar betul bahwa nilai yang orang lain berikan pada saya tidak lagi pada seragam atau profesi saya di luar, melainkan pada bagaimana semua yang secara alami dan keseharian melekat pada diri saya. Tentu hal ini menjadi sangat menyenangkan dan juga lebih menantang. Bayangkan Tanpa adanya kode etik perusahaan, saya dituntut mengasah ke-pekaan atas norma social yan tidak ada aturan baku tertulisnya.

Kedua, menjadi IRT berarti memiliki akses pribadi ke diri kita seutuhnya. Pernah dengar pepatah yang bilang, ketika kamu punya uang maka kamu kehilangan waktu, sebaliknya, ketika kamu menjauhi uang waktumu akan kembali. Yap! Urusan ekonomi memang penting, tetapi ada kalanya saya merindukan waktu luang. Sekarang ketika “waktu luang” saya kembali saya tidak harus merindukan urusan ekonomi tetapi bisa memulai lagi apa yang saya ingin lakukan dengan sungguh-sungguh. Tuhan itu maha baik, setidaknya dia titipkan satu kelebihan yang bisa jadi bekal kita hidup. Kelebihan saya? Malu ah, nanti saja kalau sudah bisa dinikmati bersama pasti tahu.

Tentang anak, saya bukan satu-satunya ibu yang anaknya merengek-rengek bahkan menangis di pagi hari ketika akan ditinggal kerja tapi rasanya bagi semua ibu sama saja. Kalau sudah begitu, seharian yang produktif pun tidak lagi berkesan baik. Badan di kantor, pikiran ke computer dan angka tapi hati nun jauh di anak. Meskipun saya termasuk salah seorang yang beruntung karena pengasuhan anak saya dibantu oleh adik-adik (meskipun cowok semua), hati seorang ibu tetap saja merindu. Sekarang, ada banyak sekali Pe-Er tentang tumbuh kembang anak yang harus saya tangani dan rasakan sehari-hari secara utuh. Tentu bukan jadi masalah, justru disana saya merasa hidup saya utuh. Dan, kalau Tuhan kasih rejeki lagi saya dah siap buka taman bermain hahahaha…

The Last but not least, when I was home, I knew he was always there. I knew he was home that I ever decided to living with. Trus, apa lagi yang kurang? Tidak ada.

(salam hangat untuk kawan-kawan seperjuangan yang masih mengayuh pedal kahidupan demi keluarga di luar sana)

Anyway, Doesn’t Celine Dion right? 😛

Celine-Dion-quote-housewife-job

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s