Kisah Seorang Kawan

“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia yang semakin miskin”(Pram, Gadis Pantai)gadis-pantai

Di lorong ingatan saya, terdapat sebuah tempat gelap dimana tersimpan beberapa hal yang saya biarkan begitu saja. Tidur pulas disana. Sampai ada satu yang menyeruak sebagai dongeng sebelum istirahat yang menjadi selimut hangat tapi juga menyedihkan bagi saya dan suami saya malam itu. Butuh belasan tahun hingga saya bisa mengurai kesedihan mendalam masa remaja yang ketika itu hanya berupa cerita.

Tahun 2000.

Memasuki millennium baru tidak lantas membuat semua hal serta merta berubah menjadi warna silver dan berkilau. Itu hanya pesta sementara yang disiarkan berulang-ulang oleh media dan membuat para penyimaknya lantas terjebak euphoria sesaat yang palsu. Seorang kuli tetap berangkat kerja memanggul beberapa ton sayur dan berbaki-baki ikan esok paginya, hutang dan penderitaan juga tidak serta merta hilang, apalagi yang kita percayai sebelumnya toh tidak berganti dan terbuang secepat almanac baru yang dipasang dengan suka cita. Di tahun yang sama, aku hampir menandasakan masa sekolah di bangku SD. Sekolahku terpisah lumayan jauh dari rumah yang baru berhasil dibangun Orangtuaku setelah hampir 9 tahun menjadi perantau di pulau kecil dengan pantai-pantai seindah pulau Bali. Namanya Lombok. Berbeda dengan sekolahku yang terletak di pusat kecamatan, rumahku jauh dari kata ramai. Bahkan, untuk satu kecamatan yang sama, lingkungan sekolah dan lingkungan rumah memiliki aksen/dialek bahkan beberapa kosa kata yang berbeda (di sekitar kecamatan dialeknya datar sedangkan semakin jauh dari kecamatan cengkoknya akan semakin rumit).

Tentu saja aktivitas anak-anakku mengikut lingkungan rumah. Menurut pada tradisi dusun yang gemar mengajarkan anak-anak untuk pergi mengaji setiap hari. Menyenangkan tapi penuh konsekuensi, sebab jika ada satu waktu solat terlewat, guru kami akan memukul betis dengan penjalin (terbuat dari beberapa lidi yang di kepang) sejumlah rokaat solat yang kami tinggalkan. Meski sakit tapi tiada dendam tersimpan. Meninggalkan solat bagaikan ingkar janji kata Beliau. Hanya itu ku kira bagian “serius” dari masa anak-anakku. Ya, semua hal yang berhunbungan dengan tempat ngaji adalah hal yang diberi tanda seru berwarna merah. Tapi diluar 2 jam setelah solat magrib, adalah waktu bermain yang menyenangkan dan rasa bahagianya abadi.

Pada masa-masa akhir SD itu aku mulai mengenal beberapa teman yang tidak berasal dari lingkungan dekat rumah. Salah satu diantara mereka bernama Rianah. Kami harus menyebrang kali yang dihubungkan dengan 2 batang bambu utuh yang diikat jika ingin ke rumahnya. Tentu itu tidak sering terjadi. Sebaliknya, Rianah lah yang selalu menyebrang dan mengikuti permainan kami. Seandanya millennium itu seperti jembatan penghubung rumah Rianah dan tempat bermain kami yang bisa dengan mudah kami sebrangi kembali untuk menuntaskan permainan atau bahkan mengubah aturan sekehedak hati kami, tentu tidak ada kebahagiaan anak-anak yang bisa berubah menjadi kenangan—kenagan menyedihkan yang kumaksud disini.

Tidak semua hal seindah yang kita inginkan.

Barangkali karena aku adalah anak perempuan pertama yang berasal dari keluarga guru sehingga aku tidak merasakan betapa untuk pindah bangku sekolah ke SMP adalah hal yang istimewa. Bagiku itu adalah keniscayaan. Sampai akhirnya sahabatku sendiri yang mencabik-cabik keniscayaan itu sebagai sesuatu yang mahal dan tidak terbeli. Namanya Ani. Kakaknya Ana tidak melanjutkan ke jenjang setelah pendidikan dasar. Dia punya seorang adik laki-laki yang tahun depan akan menyusul kelulusannya dari sekolah dasar. Tidak boleh ada biaya tambahan, cukuplah anak perempuan bisa membaca dan berhitung sederhana. Berhari-hari mendung itu tidak hilang. Ani pun sudah tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk melanjutkan sekolah jika orangtuanya hanya menyediakan satu tiket utuh pendidikan lanjutan setelah SD hanya untuk satu-satunya anak laki-laki di rumah itu. Lalu apa yang dinanti? Tentu saja semburat keperawanan yang bisa membayar lunas hutang pada orang tua (ketika ada pihak laki-laki yang meminta kawin). Tapi Ani selamat dari keharusan untuk tinggal di rumah menunggui tungku yang menghanguskan masa mudanya menjadi abu. Banyak pihak yang mendorong, meski pun tidak bersekolah di SMP Negeri, Tsanawiyah adalah tempat yang membanggakan. Matahari membawa kebahagiaan kembali.

Hingga kami mulai disibukkan dengan bulan-bulan pertama sekolah, berita itu dating bagaikan bau busuk yang ingin segera dihalau dan dimusnahkan. Rianah dinikahkan. Singkat dan membungkam. Itulah saat aku tidak memahami dan begitu sulit menerima kaidah yang membolehkan temanku yang seharusnya mengikuti orientasi sekolah, merapikan buku dan mengikat sepatu serta menjabat tangan kawan-kawan baru bertekuk pasrah pada sebuah ikatan yang tidak jelas untuk anak seusia kami. Bahkan untuk perempuan seusia saya saat ini, pernikahan bukan hal yang sederhana. Kekagetan di awal ketika menemukan orang asing di tempat tidur, bersikap layaknya istri dan belajar menekuni seorang suami serta kehidupan rumah tangga bukan hal yang sederhana. Bayangkan itu harus dilakoni seorang gadis kecil berusia 12 tahun. Dan kabar lebih buruk yang kudengar berikutya adalah dia menjadi istri ke-sekian dari laki-laki itu. Bukan aku membenci poligami, seandainya saja tidak ada oknum yang dengan “egois” memanfaatkan ketidakberdayaan demi kesenangan sesaat.

Begitu terus berbulan-bulan sampai bulan ke-empat ketika akhirnya dia pulang ke rumah orangtuanya. Sayangnya, tidak ada lagi Rianah gadis seusia kami yang bermain dan bergosip tentang kekonyolah anak laki-laki dan merundingkan rasa iri yang sama atas cemerlangnya seseorang di sekolah. Setelah begitu saja talak diucapkan, berubah juga statusnya menjadi seorang “janda”. Bisakah anda membayangkan menyandang status janda diusia 12 tahun? Rasa sedih, sakit dan marah itu masih terasa sampai sekarang. Dan semakin menjadi-jadi ketika saya sudah menikah dan punya seorang putri.

Bagian paling buruk, dia tidak lagi menyapa teman-teman sebayanya yang masih ingusan menenteng sepatu ke sekolah. Terakhir kulihat dia, sedang menunggu angkutan umum. Bisa kuingat dengan jelas saat aku membandingkan diriku dengan apa yang kulihat padanya. Pakaian yang menonjokan dada yang baru—dan dipaksa—mekar, celana cut bray yang sedang ngetren masa itu untuk orang dewasa, dan sandal wedges tebal, serasi dengan pulasan bedak tebal dan gincu merona. Wajahnya tenang, sambil memalingkan pandangan. Hatiku hancur. Patah hatiku yang pertama.

Advertisements