Norwegian Woods: Haruki Murakami

Ini resensi pertama saya dari beberapa buku yang say abaca belakangan. Penting untuk mengatakan ini diawal agar nantinya, pembaca maklum jika resensi saya kurang mengena. Tapi, baik juga kan untuk mencoba meresensi buku asing dengan level lumayan njelimet seperti karya Haruki Murakami satu ini.

Entah dari mana saya kenal nama penulis satu ini—seingat saya dari web yang menjual buku murah–, tapi nama ini dan beberapa karya nya terus menggema di kepala saya dengan judul: beli enggak ya? Beli enggak ya? Akhirnya, ketika suatu hari saya sedang menunggu penerbangan dari Jakarta ke Surabaya, karena bosan dan kalut, kaki saya begitu saja masuk ke dalam kios buku bandara yang sudah jelas tidak menawarkan buku murah. Perbedaan took buku di bandara dengan yang biasanya, tentu saja, sebagian besar novel yang dijual ditulis dalam versi bahasa inggris. Dari banyak buku yang saya taksir, akhirnya keputusan pertama jatuh pada “All The Light we Cannot See”-nya Anthony Doerr. Lalu, sebuah buku mungil bersampul kuning karya Haruki Murakami. Saya sendiri sanksi dengan keputusan membeli buku ini, jangan-jangan tak beli karena sampulnya kuning. Begitulah, kemudian saya membuka lembar demi lembar buku ini.

Murakami, menulis dengan gaya flash back, dimana tokoh utama Toru Watanabe memiliki kenangan kuat tentang perjalanan hidupnya dengan seoang Perempuan bernama Naoko. Kisah cinta? Iya. Jangan kecewa dulu, disinilah menariknya. Di point cerita cinta inilah Murakami menunjukkan kecerdasannya, sebab dia berhasil merangkai kisah cinta seorang Toru (yang normal) dengan Naoko (penderita mental disorder) dengan apik. Saya tertarik dan sanggup menuntaskan novel ini dalam waktu dua hari karena terhisap masuk dalam dimensi naoko. Yup! Sama seperti Toru yang tidak bisa melepaskan ingatannya tentang sosok Naoko. Kenapa Naoko begitu istimewa?

Ditulis dengan latar belakang tahun 1960, ketika Jepang mengalami masa transisi menjadi Jepang yang lebih modern, Murakami menyampaikan dengan lembut bahwa sejak masa itu tekanan yang dialami generasi muda jepang sungguh luar biasa. Dikisahkannya kakak Naoko—gadis berprestasi bintang sekolah—yang gantung diri tepat saat akhir tahun masa SMA-nya dengan hanya satu tanda depresi ringan yang diabaikan orang tua (kakak naoko selalu tidak masuk sekolah saat menstruasi karena depresi). Naoko kecillah yang menemukan kakaknya pertama kali di kamar dalam keadaan tewas tergantung seperti penari ballet. Lalu, hal tragis ke-dua yang dialami Naoko dan Toru bersama-sama adalah tewasnya kekasih Naoko yang juga sahabat Toru (bunuh diri dengan menyalakan mobil di dalam ruangan). Tidak lama setelah kematian kekasih Naoko, Toru adalah satu-satunya teman yang dimiliki Naoko ketika kuliah (meskipun keduanya kuliah di universitas berbeda). Namun setelah satu kejadian dimana Naoko dan Toru berhubungan intim untuk yang pertama kalinya, Naoko tiba-tiba menghilang.

Jalinan cerita yang dibuat apik dan menyentuh merupakan kekuatan novel ini. Konsistensi Toru dan Naoko untuk membantu kesiapan mental Naoko hidup di dunia social masyarakat pada umumnya dibantu Reiko Ishida (yang juga mengalami mental disorder) mengalun lembut namun mengguncang emosi. Tokoh “normal” lainnya juga ditampilkan denga cerita yang segar seperti kisah cinta Midori Hatsumi yang mati-matian menyukai Toru.

Setelah tuntas membaca novel ini, perasaan jadi terkuras habis. Kenapa? Disitulah kepiawaian seorang penulis mendapat tempatnya di hati pembaca. Begitulah novel ini menjadi salah satu novel kontemporer yang hits dikalangan remaja jepang.

Tentang Norwegian wood sendiri, sebenarnya adalah lagu dari grup music legendaries the beatles. Begini liriknya:

Once, I had a girl

Or shoud I say, she once had me

She showed me her room

Isn’t it good? Norwegian wood..

She asked to sit anywhere

But I noticed there wasn’t a chair

So, I sit on a rug, biding my time dringking her wine

We talked until two, and then she said “it’s time for bed”

She told me she worked in the morning

And started to laugh

I told her didn’t

And crawled off to sleep in the bath

And when I awoke

I was alone

This bird had flown

So I lit a fire

Isn’t it good Norwegian wood,,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s