After Rain

“Mau melihat hujan sebagai kebahagiaan? keluar dan bermainlah dengan anak-anak!”

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

PERJALANAN (LUMAYAN JAUH) PERTAMA RAHA DAN SAYA

                   “Jika tidak bisa membaca buku, pergilah ke suatu tempat yang jauh.”

Minggu lalu saya tidak membaca buku sama sekali. Sebagai ganti resensi, saya ceritakan kegiatan menarik saya dn anak perempuan tercinta. Yap! Kami pergi jalan-jalan berdua. Memanfaatkan agenda kantor yang mengadakan rapat tahunan tim Business Risk di Jogja, saya menawarkan ke suami untuk membawa serta Raha dalam perjalanan kemarin. Suami tidak menolak. Lalu, berangkatlah dua perempuan ini ala kadarnya. Sebelumnya, suami akan “mengantar” sampai Surabaya, karena satu dan lain hal (baca: kelelahan dan saya tidak mau bangun), jadilah tetap berangkat dengan tiket yang disediakan kantor siang harinya.

Bertolak dari Jember pada hari kamis menuju stasiun transit di Gubeng, Surabaya kami melanjutkan perjalanan dg kereta yang menurut saya lebih nyaman. Sempat hampir akan tertinggal kereta karena petugas loket minta saya mengantri di antrian Go Show untuk memintakan tiket Raha. Alhasil, satu menit diatas kereta kemudian peluit panjang terdengar. Malang tidak dapat dihindari, saya kehilangan salah satu “teman” Raha: boneka beruang kecil yang saya “cantolkan” di tali tas. Jatuh entah dimana. Raha tidak saya bawa ke Jogja, karena ada Uti dan Kakung di Solo yang sudah siap dan berbahagia mengasuh dia untuk 2 hari selama saya “sibuk” mendengarkan ceramah (andaikan saya yang membayar, pasti saya memilih colut hehehe)

Dua hari di solo, kami mengakhiri liburan dengan kembali ke Jogja—terbang ke Surabaya—dari stasiun sidoarjo—ke Jember. Ibu saya boleh berkomentar tentang cara saya mengasuh anak, tapi beliau tidak bisa berargumen ketika melihat saya menggendong Raha di depan, Ransel di belakang dan melingkarkan tas kecil berisi barang sangat penting (tiket, botol susu dan dompet) di bahu.

Seseorang di stasiun Sidoarjo bertanya setelah mengamati penampilan saya dari atas ke bawah, “Mbak sendirian?”

Saya menjawab,”Tidak, saya berdua.” (Dan ini sangat menyenangkan.)

Sedangkan untuk manfaatnya, saya kira website dan buku parenting lebih ahli. (ngeles)

TELAPAK TANGANMU

Pinjamkan telapak tanganmu,

Kulukis hujan

Sehingga jarum waktu akan berputar mundur dengan sendirinya

Aku kembali pada semula, seekor kumbang yang bergantung di alang-alang

Berayun, ditimang air yang berjatuhan

Di atas air, kupandangi diriku yang kecil

Setitik diantara bayangan langit yang memantul di telaga

Di kehidupanku berikutnya,

Pinjamkan aku telapak tanganmu

Kupahat hutan

Sampai ku dengar kau bertanya,”mau jadi apa sekarang?”

Menyenangkan kiranya jadi burung yang terbang

Tapi aku suka menjadi semut

Kecil sekali

Sampai habis usiaku menjelajah reliefmu

Lalu mati diatas puncak salju

Aku sempat dengar kau berbisik,”sudah tahu aku, kenapa kamu jadi semut”

Kupandang saljumu, “supaya badanku yang hitam tidak sulit hilang”

Ketika aku dilahirkan kembali,

Pinjamkan padaku relief yang pernah kupahat di telapak tanganmu

Pada sebuah pohon aku ingin tinggal

Tidak menjadi apa-apa

Berdiam melihat hal indah dari sana

Kau lihat sayangku,

Seekor burung menukik ke telaga

Dari bulunya memercik air yang membangunkan kelinci dan sekawanan anteloph yang sedang minum.

Tertawa dia!

Hey, apakah itu lily? Kecubung? Bunga bakung?

Berselang-seling diantara ilalang

Tempat kumbang kecil menetas dan memulai hidup dari manisnya sesarian

Bah! Cerewet sekali rupanya para siamang yang bergelantungan

Bersorak riuh meneriaki-ku

Mereka bilang aku berbohong

Aku konyol dan irasional

Singkatnya: aku gila!

Karena kuperliahtakan telapak tanganmu

Yang kubuat padanya sebuah dunia

Kapitalisme!

Mereka melempari buah persik hingga aku jatuh

Beruntung!

Seberuntung kau pernah meminjamkan telapak tanganmu,

Kulukis biru padanya

Entah langit atau laut

Aku jatuh dan melayang

Pinjamkan lagi telapak tanganmu

 

DEDIKASI YANG BERNILAI TINGGI

Bagi penggemar buku anak-anak pasti sudah tidak asing dengan nama Jackie atau Jacquelene Wilson. Wanita asal Bath, Inggris ini telah menulis lebih dari 100 judul buku anak-anak yang best seller di Britania Raya. Saya pun salah satu orang yang menggemari bukunya, meskipun untuk mengoleksi seluruh judul yan dia tulis baru berupa cita-cita. Karakter anak-anak yang ditulis Jackie dalam tiap bukunya mampu membuat saya—orang dewasa ini—kembali merasakan perasaan anak-anak saya hadir. Lugu, polos tapi pada saat itu merupakan sesuatu yang sungguh kompleks. Dalam masing-masing bukunya, Jackie tidak hanya mampu menarik perasaan empati anak-anak sebagai pembaca, namun juga mampu memberikan bingkai lain pada orang dewasa untuk melihat cara anak-anak memahami suatu persoalan dan mencari jalan keluar sesuai dengan apa yang dia pahami. Hebatnya lagi, karena ini adalah dunia anak-anak, cara mereka memahami dan menyelesaikannya sungguh sangat ajaib. Seperti kata Andy—salah satu tokoh yang ditulis oleh Jackie dalam “suitcase kids”—EASY-PEASY! SIMPLE-PIMPLE!

Tiga dari yang saya miliki dan menyentuh sekali:

The Story Of Tracy Beaker

Tidak hanya dalam buku, karakter tracy Beaker kini muncul di drama keluarga di salah satu stasiun TV di Iggris. Karakter Tracy Beaker adalah karakter anak perempuan yang “sedikit sulit dipahami” dalam dunia nyata. Dalam bukunya sendiri digambarkan bahwa tidak banyak orang yang “berhasil” bersama Tracy. Sebutlah 2 pasangan yang sempat menjadi orangtua asuh (foster parent) untuk Tracy selagi ibunya belum menjemputnya, gagal berkompromi dengan begitu sensitifnya perasaan Tracy (yang berefek pada serangkaian tindakan di luar kendali). Sebagai salah satu anak yang paling tua di “penampungan”, Tracy sangat berusaha menunjukkan bahwa dia layak untuk diasuh oleh pasangan yang membutuhkan anak. Pasangan pertama tidak membuat Tracy bahagia sebab menanggapnya sulit diatur dan melakukan “kekerasan fisik” pada Tracy. Sedangkan pasangan kedua yang usianya jauh lebih muda dari pada Tracy, mengasuh Tracy hanya untuk “pancingan” agar segera memiliki keturunan. Begitu, Si Istri hamil, mereka mengembalikan Tracy ke penampungan. Tentu saja Tracy memohon untuk tinggal bersama mereka, dan berakhir dengan Tracy menutup hati setelah tahu dia tidak diinginkan.

Di Shelter, tracy akhirnya punya kegiatan baru yang sangat menyenangkan: menulis. Dia menulis semuanya siang-malam dan kapan pun. Kegiatan ini tidak hanya membuat Tracy “lebih terkendali” tapi juga membuatnya bertemu dengan seorang penulis yang setelah berkirim surat dengannya beberapa kali, kemudian tidak bisa menolak Tracy yang memintanya menjadi pengasuh selagi ibunya kembali untuk menjemputnya.

The Suitcase Kids

Kalau anda adalah seorang anak yang dibesarkan dari orang tua yang bercerai kemudian masing-masing memiliki keluarga baru, pasti buku ini akan mengembalikan kenangan betapa masa kecil sungguh tidak mudah tapi anda berhasil melaluinya. Tidak heran, The Suitcase Kids memenangkan salah satu penghargaan popular untuk penulis anak. Gaya menulis tiap bab-nya dibuat urut sesuai dengan alphabet, unik bukan?

Back to story! Andy adalah seorang anak yang dibesarkan di 2 keluarga (masing-masing adalah keluarga ibu dan ayahnya setelah bercerai). Ditemani seekor Radish, Andi melalui masa-masa buruk pertengkaran dan berkali-kali konseling keluarga. Hari buruk itu dating, orang tuanya bercerai dan meninggalkan semua yang pernah dimiliki Andy sebagai kenangan. Karena Andy masih terlalu kecil dan takut untuk memilih pilihan paling sulit antara tinggal bersama Ayah Atau Ibunya, maka sebagai penyelesaian Andy tinggal bersama keluarga baru ibunya satu minggu lalu minggu berikutnya ayahnya kan menjemput untuk tinggal bersamanya dan keluarga baru ayahnya. Dari laki-laki yang dinikahi ibunya Andi punya tiga saudara tiri sedangkan dari keluaga baru ayahnya Andi punya saudara tiri kembar. Bukankah tidak mudah untuk berbagi segalanya?

Tapi, yang paling sulit untuk Andy adalah menghapuskan kenangan bahwa dia pernah bahagia tinggal bersama di sebuh rumah bersama ayah-ibu –radish dan dia seorang. Ketika pie blackberry yang dipanggang ibunya begitu lezat.

The Lottie Project

Tidak se-sedih dua cerita sebelumnya, The lottie project terasa lebih membakar semangat. Karena belum tuntas membaca, gambaran singkatnya adalah tentang seorang anak perempuan bernama Charlie yang sedang dalam proyek mengerjakan tugas Victorian History dan mengambil sudut pandang seorang anak perempuan yang terpaksa bekerja sebagai nanny di rumah orang kaya. Pada saat yang sama, Charlie yang tinggal dengan ibunya mengalami masalah ekonomi karena perusahaan dimana Joe (ibu Charlie) bekerja bangkrut dan mem-PHK semua karyawan. Tidak ingin kehilangan tempat tinggal layak yang mereka berdua perjuangkan dan tidak mau kehilangan harga diri karena harus kembali bergantung ke orang tua Joe, joe menerima beberapa pekerjaan sekaligus sebagai day cleaner dan seorang Nanny. Charlie pun membantu Joe dengan mengiklankan dirinya sebagai “pesuruh” dan apa pun yang bisa dikerjakan oleh anak kelas 6 SD. Seru sekali (tapi belum selesai)

Kalau sudah mulai baca novelnya Jackie satu saja, bakalan susah untuk menolak yang lainnya. Dan buat yang suka banget sama dunia anak, psikologi anak dan keluarga. Buku ini yummiiee!!! Gimana enggak Yumiie, 70 tahun sudah usia Jackie, bayangkan apa yang telah dia lalui dan dedikasinya demi anak-anak diseluruh dunia lewat buku cerita.

 

 

Norwegian Woods: Haruki Murakami

Ini resensi pertama saya dari beberapa buku yang say abaca belakangan. Penting untuk mengatakan ini diawal agar nantinya, pembaca maklum jika resensi saya kurang mengena. Tapi, baik juga kan untuk mencoba meresensi buku asing dengan level lumayan njelimet seperti karya Haruki Murakami satu ini.

Entah dari mana saya kenal nama penulis satu ini—seingat saya dari web yang menjual buku murah–, tapi nama ini dan beberapa karya nya terus menggema di kepala saya dengan judul: beli enggak ya? Beli enggak ya? Akhirnya, ketika suatu hari saya sedang menunggu penerbangan dari Jakarta ke Surabaya, karena bosan dan kalut, kaki saya begitu saja masuk ke dalam kios buku bandara yang sudah jelas tidak menawarkan buku murah. Perbedaan took buku di bandara dengan yang biasanya, tentu saja, sebagian besar novel yang dijual ditulis dalam versi bahasa inggris. Dari banyak buku yang saya taksir, akhirnya keputusan pertama jatuh pada “All The Light we Cannot See”-nya Anthony Doerr. Lalu, sebuah buku mungil bersampul kuning karya Haruki Murakami. Saya sendiri sanksi dengan keputusan membeli buku ini, jangan-jangan tak beli karena sampulnya kuning. Begitulah, kemudian saya membuka lembar demi lembar buku ini.

Murakami, menulis dengan gaya flash back, dimana tokoh utama Toru Watanabe memiliki kenangan kuat tentang perjalanan hidupnya dengan seoang Perempuan bernama Naoko. Kisah cinta? Iya. Jangan kecewa dulu, disinilah menariknya. Di point cerita cinta inilah Murakami menunjukkan kecerdasannya, sebab dia berhasil merangkai kisah cinta seorang Toru (yang normal) dengan Naoko (penderita mental disorder) dengan apik. Saya tertarik dan sanggup menuntaskan novel ini dalam waktu dua hari karena terhisap masuk dalam dimensi naoko. Yup! Sama seperti Toru yang tidak bisa melepaskan ingatannya tentang sosok Naoko. Kenapa Naoko begitu istimewa?

Ditulis dengan latar belakang tahun 1960, ketika Jepang mengalami masa transisi menjadi Jepang yang lebih modern, Murakami menyampaikan dengan lembut bahwa sejak masa itu tekanan yang dialami generasi muda jepang sungguh luar biasa. Dikisahkannya kakak Naoko—gadis berprestasi bintang sekolah—yang gantung diri tepat saat akhir tahun masa SMA-nya dengan hanya satu tanda depresi ringan yang diabaikan orang tua (kakak naoko selalu tidak masuk sekolah saat menstruasi karena depresi). Naoko kecillah yang menemukan kakaknya pertama kali di kamar dalam keadaan tewas tergantung seperti penari ballet. Lalu, hal tragis ke-dua yang dialami Naoko dan Toru bersama-sama adalah tewasnya kekasih Naoko yang juga sahabat Toru (bunuh diri dengan menyalakan mobil di dalam ruangan). Tidak lama setelah kematian kekasih Naoko, Toru adalah satu-satunya teman yang dimiliki Naoko ketika kuliah (meskipun keduanya kuliah di universitas berbeda). Namun setelah satu kejadian dimana Naoko dan Toru berhubungan intim untuk yang pertama kalinya, Naoko tiba-tiba menghilang.

Jalinan cerita yang dibuat apik dan menyentuh merupakan kekuatan novel ini. Konsistensi Toru dan Naoko untuk membantu kesiapan mental Naoko hidup di dunia social masyarakat pada umumnya dibantu Reiko Ishida (yang juga mengalami mental disorder) mengalun lembut namun mengguncang emosi. Tokoh “normal” lainnya juga ditampilkan denga cerita yang segar seperti kisah cinta Midori Hatsumi yang mati-matian menyukai Toru.

Setelah tuntas membaca novel ini, perasaan jadi terkuras habis. Kenapa? Disitulah kepiawaian seorang penulis mendapat tempatnya di hati pembaca. Begitulah novel ini menjadi salah satu novel kontemporer yang hits dikalangan remaja jepang.

Tentang Norwegian wood sendiri, sebenarnya adalah lagu dari grup music legendaries the beatles. Begini liriknya:

Once, I had a girl

Or shoud I say, she once had me

She showed me her room

Isn’t it good? Norwegian wood..

She asked to sit anywhere

But I noticed there wasn’t a chair

So, I sit on a rug, biding my time dringking her wine

We talked until two, and then she said “it’s time for bed”

She told me she worked in the morning

And started to laugh

I told her didn’t

And crawled off to sleep in the bath

And when I awoke

I was alone

This bird had flown

So I lit a fire

Isn’t it good Norwegian wood,,