Kisah Seorang Kawan

“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia yang semakin miskin”(Pram, Gadis Pantai)gadis-pantai

Di lorong ingatan saya, terdapat sebuah tempat gelap dimana tersimpan beberapa hal yang saya biarkan begitu saja. Tidur pulas disana. Sampai ada satu yang menyeruak sebagai dongeng sebelum istirahat yang menjadi selimut hangat tapi juga menyedihkan bagi saya dan suami saya malam itu. Butuh belasan tahun hingga saya bisa mengurai kesedihan mendalam masa remaja yang ketika itu hanya berupa cerita.

Tahun 2000.

Memasuki millennium baru tidak lantas membuat semua hal serta merta berubah menjadi warna silver dan berkilau. Itu hanya pesta sementara yang disiarkan berulang-ulang oleh media dan membuat para penyimaknya lantas terjebak euphoria sesaat yang palsu. Seorang kuli tetap berangkat kerja memanggul beberapa ton sayur dan berbaki-baki ikan esok paginya, hutang dan penderitaan juga tidak serta merta hilang, apalagi yang kita percayai sebelumnya toh tidak berganti dan terbuang secepat almanac baru yang dipasang dengan suka cita. Di tahun yang sama, aku hampir menandasakan masa sekolah di bangku SD. Sekolahku terpisah lumayan jauh dari rumah yang baru berhasil dibangun Orangtuaku setelah hampir 9 tahun menjadi perantau di pulau kecil dengan pantai-pantai seindah pulau Bali. Namanya Lombok. Berbeda dengan sekolahku yang terletak di pusat kecamatan, rumahku jauh dari kata ramai. Bahkan, untuk satu kecamatan yang sama, lingkungan sekolah dan lingkungan rumah memiliki aksen/dialek bahkan beberapa kosa kata yang berbeda (di sekitar kecamatan dialeknya datar sedangkan semakin jauh dari kecamatan cengkoknya akan semakin rumit).

Tentu saja aktivitas anak-anakku mengikut lingkungan rumah. Menurut pada tradisi dusun yang gemar mengajarkan anak-anak untuk pergi mengaji setiap hari. Menyenangkan tapi penuh konsekuensi, sebab jika ada satu waktu solat terlewat, guru kami akan memukul betis dengan penjalin (terbuat dari beberapa lidi yang di kepang) sejumlah rokaat solat yang kami tinggalkan. Meski sakit tapi tiada dendam tersimpan. Meninggalkan solat bagaikan ingkar janji kata Beliau. Hanya itu ku kira bagian “serius” dari masa anak-anakku. Ya, semua hal yang berhunbungan dengan tempat ngaji adalah hal yang diberi tanda seru berwarna merah. Tapi diluar 2 jam setelah solat magrib, adalah waktu bermain yang menyenangkan dan rasa bahagianya abadi.

Pada masa-masa akhir SD itu aku mulai mengenal beberapa teman yang tidak berasal dari lingkungan dekat rumah. Salah satu diantara mereka bernama Rianah. Kami harus menyebrang kali yang dihubungkan dengan 2 batang bambu utuh yang diikat jika ingin ke rumahnya. Tentu itu tidak sering terjadi. Sebaliknya, Rianah lah yang selalu menyebrang dan mengikuti permainan kami. Seandanya millennium itu seperti jembatan penghubung rumah Rianah dan tempat bermain kami yang bisa dengan mudah kami sebrangi kembali untuk menuntaskan permainan atau bahkan mengubah aturan sekehedak hati kami, tentu tidak ada kebahagiaan anak-anak yang bisa berubah menjadi kenangan—kenagan menyedihkan yang kumaksud disini.

Tidak semua hal seindah yang kita inginkan.

Barangkali karena aku adalah anak perempuan pertama yang berasal dari keluarga guru sehingga aku tidak merasakan betapa untuk pindah bangku sekolah ke SMP adalah hal yang istimewa. Bagiku itu adalah keniscayaan. Sampai akhirnya sahabatku sendiri yang mencabik-cabik keniscayaan itu sebagai sesuatu yang mahal dan tidak terbeli. Namanya Ani. Kakaknya Ana tidak melanjutkan ke jenjang setelah pendidikan dasar. Dia punya seorang adik laki-laki yang tahun depan akan menyusul kelulusannya dari sekolah dasar. Tidak boleh ada biaya tambahan, cukuplah anak perempuan bisa membaca dan berhitung sederhana. Berhari-hari mendung itu tidak hilang. Ani pun sudah tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk melanjutkan sekolah jika orangtuanya hanya menyediakan satu tiket utuh pendidikan lanjutan setelah SD hanya untuk satu-satunya anak laki-laki di rumah itu. Lalu apa yang dinanti? Tentu saja semburat keperawanan yang bisa membayar lunas hutang pada orang tua (ketika ada pihak laki-laki yang meminta kawin). Tapi Ani selamat dari keharusan untuk tinggal di rumah menunggui tungku yang menghanguskan masa mudanya menjadi abu. Banyak pihak yang mendorong, meski pun tidak bersekolah di SMP Negeri, Tsanawiyah adalah tempat yang membanggakan. Matahari membawa kebahagiaan kembali.

Hingga kami mulai disibukkan dengan bulan-bulan pertama sekolah, berita itu dating bagaikan bau busuk yang ingin segera dihalau dan dimusnahkan. Rianah dinikahkan. Singkat dan membungkam. Itulah saat aku tidak memahami dan begitu sulit menerima kaidah yang membolehkan temanku yang seharusnya mengikuti orientasi sekolah, merapikan buku dan mengikat sepatu serta menjabat tangan kawan-kawan baru bertekuk pasrah pada sebuah ikatan yang tidak jelas untuk anak seusia kami. Bahkan untuk perempuan seusia saya saat ini, pernikahan bukan hal yang sederhana. Kekagetan di awal ketika menemukan orang asing di tempat tidur, bersikap layaknya istri dan belajar menekuni seorang suami serta kehidupan rumah tangga bukan hal yang sederhana. Bayangkan itu harus dilakoni seorang gadis kecil berusia 12 tahun. Dan kabar lebih buruk yang kudengar berikutya adalah dia menjadi istri ke-sekian dari laki-laki itu. Bukan aku membenci poligami, seandainya saja tidak ada oknum yang dengan “egois” memanfaatkan ketidakberdayaan demi kesenangan sesaat.

Begitu terus berbulan-bulan sampai bulan ke-empat ketika akhirnya dia pulang ke rumah orangtuanya. Sayangnya, tidak ada lagi Rianah gadis seusia kami yang bermain dan bergosip tentang kekonyolah anak laki-laki dan merundingkan rasa iri yang sama atas cemerlangnya seseorang di sekolah. Setelah begitu saja talak diucapkan, berubah juga statusnya menjadi seorang “janda”. Bisakah anda membayangkan menyandang status janda diusia 12 tahun? Rasa sedih, sakit dan marah itu masih terasa sampai sekarang. Dan semakin menjadi-jadi ketika saya sudah menikah dan punya seorang putri.

Bagian paling buruk, dia tidak lagi menyapa teman-teman sebayanya yang masih ingusan menenteng sepatu ke sekolah. Terakhir kulihat dia, sedang menunggu angkutan umum. Bisa kuingat dengan jelas saat aku membandingkan diriku dengan apa yang kulihat padanya. Pakaian yang menonjokan dada yang baru—dan dipaksa—mekar, celana cut bray yang sedang ngetren masa itu untuk orang dewasa, dan sandal wedges tebal, serasi dengan pulasan bedak tebal dan gincu merona. Wajahnya tenang, sambil memalingkan pandangan. Hatiku hancur. Patah hatiku yang pertama.

WHEN GOD WAS A RABBIT : KETIKA FILSAFAT TIDAK HARUS MENJADI “BERAT”

“Desember Lagi. Ulang Tahunku. Hari Ini jugalah John Lennon ditembak, Sang Istri berada di sebelahnya” (Eleanor Maud)

Ditulis oleh Sarah Winman. Buku indah yang ketika saya baca versi terjemahannya punya sense seperti membaca ulang To Kill A Mocking Bird-nya Harper Lee ini membawa kita berjalan-jalan pada rel waktu yang menghubungkan pulau kanak-kanak menuju pulau dewasa yang tanpa kita sadari membentuk hidup yang kita jalani saat ini.

Meskipun sangat nyaman dibaca karena bahasanaya lugas, alurnya tidak menyulitkan dan karakter-karakter yang mudah dipahami, buku ini menyampaikan kekayaan intelektual dan kehalusan penulisnya. Sebut saja tentang pengalaman buruk di masa kecil Elli yang membuatnya tidak menikah dan eksistensinya sangat bergantung pada sang Kakak, Joe, diungkapkan dengan lembut hingga butuh untuk menyelesaikan buku hinggga akhir, baru kita mendapat keseluruhan cerita.

Terus terang saya tidak menemukan klimaks spektakuler pada novel ini, sebab alurnya mengalir lembut dan sangat normal—seperti hidup yang dijalani sebagian besar manusia. Tapi, pelajaran hidup tentang toleransi dan pandangan filsafatnya tentang Tuhan sungguh tajam. Sebut saja Ayah Elli, yang tidak perlu menjelaskan dan bersikap berlebihan tentang dirinya yang tidak percaya Tuhan (pada Agama), diam-diam memiliki nilai sendiri tentang “karma” :sebuah mekanisme ruhiyah yang sangat privat. Dalam novel ini, seolah-olah setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya yang eksentrik tentang Tuhan. Elly sendiri, menamai kelincinya “God”. Tentu saja bagi sebagian besar orang yang percaya pada doktrin agama, menamai peliharan dengan “tuhan” adalah sebuah penistaan. Tapi, pada sudut filsafat lain yang disampaikan Sarah Winmann, Tuhan adalah kesatuan alam dan kehidupan yang ada dalam wujud ataupun pengalaman meskipun itu sangat kecil/sederhana. Impartial.

Anda suka berjalan-jalan di belantara pemikiran yang lembut sekaligus liar namun penuh semangat? Siapkan sepotong kue, segelas air dan mulailah membaca.

PS: Desember lagi. 2016.

PERJALANAN (LUMAYAN JAUH) PERTAMA RAHA DAN SAYA

                   “Jika tidak bisa membaca buku, pergilah ke suatu tempat yang jauh.”

Minggu lalu saya tidak membaca buku sama sekali. Sebagai ganti resensi, saya ceritakan kegiatan menarik saya dn anak perempuan tercinta. Yap! Kami pergi jalan-jalan berdua. Memanfaatkan agenda kantor yang mengadakan rapat tahunan tim Business Risk di Jogja, saya menawarkan ke suami untuk membawa serta Raha dalam perjalanan kemarin. Suami tidak menolak. Lalu, berangkatlah dua perempuan ini ala kadarnya. Sebelumnya, suami akan “mengantar” sampai Surabaya, karena satu dan lain hal (baca: kelelahan dan saya tidak mau bangun), jadilah tetap berangkat dengan tiket yang disediakan kantor siang harinya.

Bertolak dari Jember pada hari kamis menuju stasiun transit di Gubeng, Surabaya kami melanjutkan perjalanan dg kereta yang menurut saya lebih nyaman. Sempat hampir akan tertinggal kereta karena petugas loket minta saya mengantri di antrian Go Show untuk memintakan tiket Raha. Alhasil, satu menit diatas kereta kemudian peluit panjang terdengar. Malang tidak dapat dihindari, saya kehilangan salah satu “teman” Raha: boneka beruang kecil yang saya “cantolkan” di tali tas. Jatuh entah dimana. Raha tidak saya bawa ke Jogja, karena ada Uti dan Kakung di Solo yang sudah siap dan berbahagia mengasuh dia untuk 2 hari selama saya “sibuk” mendengarkan ceramah (andaikan saya yang membayar, pasti saya memilih colut hehehe)

Dua hari di solo, kami mengakhiri liburan dengan kembali ke Jogja—terbang ke Surabaya—dari stasiun sidoarjo—ke Jember. Ibu saya boleh berkomentar tentang cara saya mengasuh anak, tapi beliau tidak bisa berargumen ketika melihat saya menggendong Raha di depan, Ransel di belakang dan melingkarkan tas kecil berisi barang sangat penting (tiket, botol susu dan dompet) di bahu.

Seseorang di stasiun Sidoarjo bertanya setelah mengamati penampilan saya dari atas ke bawah, “Mbak sendirian?”

Saya menjawab,”Tidak, saya berdua.” (Dan ini sangat menyenangkan.)

Sedangkan untuk manfaatnya, saya kira website dan buku parenting lebih ahli. (ngeles)

TELAPAK TANGANMU

Pinjamkan telapak tanganmu,

Kulukis hujan

Sehingga jarum waktu akan berputar mundur dengan sendirinya

Aku kembali pada semula, seekor kumbang yang bergantung di alang-alang

Berayun, ditimang air yang berjatuhan

Di atas air, kupandangi diriku yang kecil

Setitik diantara bayangan langit yang memantul di telaga

Di kehidupanku berikutnya,

Pinjamkan aku telapak tanganmu

Kupahat hutan

Sampai ku dengar kau bertanya,”mau jadi apa sekarang?”

Menyenangkan kiranya jadi burung yang terbang

Tapi aku suka menjadi semut

Kecil sekali

Sampai habis usiaku menjelajah reliefmu

Lalu mati diatas puncak salju

Aku sempat dengar kau berbisik,”sudah tahu aku, kenapa kamu jadi semut”

Kupandang saljumu, “supaya badanku yang hitam tidak sulit hilang”

Ketika aku dilahirkan kembali,

Pinjamkan padaku relief yang pernah kupahat di telapak tanganmu

Pada sebuah pohon aku ingin tinggal

Tidak menjadi apa-apa

Berdiam melihat hal indah dari sana

Kau lihat sayangku,

Seekor burung menukik ke telaga

Dari bulunya memercik air yang membangunkan kelinci dan sekawanan anteloph yang sedang minum.

Tertawa dia!

Hey, apakah itu lily? Kecubung? Bunga bakung?

Berselang-seling diantara ilalang

Tempat kumbang kecil menetas dan memulai hidup dari manisnya sesarian

Bah! Cerewet sekali rupanya para siamang yang bergelantungan

Bersorak riuh meneriaki-ku

Mereka bilang aku berbohong

Aku konyol dan irasional

Singkatnya: aku gila!

Karena kuperliahtakan telapak tanganmu

Yang kubuat padanya sebuah dunia

Kapitalisme!

Mereka melempari buah persik hingga aku jatuh

Beruntung!

Seberuntung kau pernah meminjamkan telapak tanganmu,

Kulukis biru padanya

Entah langit atau laut

Aku jatuh dan melayang

Pinjamkan lagi telapak tanganmu

 

DEDIKASI YANG BERNILAI TINGGI

Bagi penggemar buku anak-anak pasti sudah tidak asing dengan nama Jackie atau Jacquelene Wilson. Wanita asal Bath, Inggris ini telah menulis lebih dari 100 judul buku anak-anak yang best seller di Britania Raya. Saya pun salah satu orang yang menggemari bukunya, meskipun untuk mengoleksi seluruh judul yan dia tulis baru berupa cita-cita. Karakter anak-anak yang ditulis Jackie dalam tiap bukunya mampu membuat saya—orang dewasa ini—kembali merasakan perasaan anak-anak saya hadir. Lugu, polos tapi pada saat itu merupakan sesuatu yang sungguh kompleks. Dalam masing-masing bukunya, Jackie tidak hanya mampu menarik perasaan empati anak-anak sebagai pembaca, namun juga mampu memberikan bingkai lain pada orang dewasa untuk melihat cara anak-anak memahami suatu persoalan dan mencari jalan keluar sesuai dengan apa yang dia pahami. Hebatnya lagi, karena ini adalah dunia anak-anak, cara mereka memahami dan menyelesaikannya sungguh sangat ajaib. Seperti kata Andy—salah satu tokoh yang ditulis oleh Jackie dalam “suitcase kids”—EASY-PEASY! SIMPLE-PIMPLE!

Tiga dari yang saya miliki dan menyentuh sekali:

The Story Of Tracy Beaker

Tidak hanya dalam buku, karakter tracy Beaker kini muncul di drama keluarga di salah satu stasiun TV di Iggris. Karakter Tracy Beaker adalah karakter anak perempuan yang “sedikit sulit dipahami” dalam dunia nyata. Dalam bukunya sendiri digambarkan bahwa tidak banyak orang yang “berhasil” bersama Tracy. Sebutlah 2 pasangan yang sempat menjadi orangtua asuh (foster parent) untuk Tracy selagi ibunya belum menjemputnya, gagal berkompromi dengan begitu sensitifnya perasaan Tracy (yang berefek pada serangkaian tindakan di luar kendali). Sebagai salah satu anak yang paling tua di “penampungan”, Tracy sangat berusaha menunjukkan bahwa dia layak untuk diasuh oleh pasangan yang membutuhkan anak. Pasangan pertama tidak membuat Tracy bahagia sebab menanggapnya sulit diatur dan melakukan “kekerasan fisik” pada Tracy. Sedangkan pasangan kedua yang usianya jauh lebih muda dari pada Tracy, mengasuh Tracy hanya untuk “pancingan” agar segera memiliki keturunan. Begitu, Si Istri hamil, mereka mengembalikan Tracy ke penampungan. Tentu saja Tracy memohon untuk tinggal bersama mereka, dan berakhir dengan Tracy menutup hati setelah tahu dia tidak diinginkan.

Di Shelter, tracy akhirnya punya kegiatan baru yang sangat menyenangkan: menulis. Dia menulis semuanya siang-malam dan kapan pun. Kegiatan ini tidak hanya membuat Tracy “lebih terkendali” tapi juga membuatnya bertemu dengan seorang penulis yang setelah berkirim surat dengannya beberapa kali, kemudian tidak bisa menolak Tracy yang memintanya menjadi pengasuh selagi ibunya kembali untuk menjemputnya.

The Suitcase Kids

Kalau anda adalah seorang anak yang dibesarkan dari orang tua yang bercerai kemudian masing-masing memiliki keluarga baru, pasti buku ini akan mengembalikan kenangan betapa masa kecil sungguh tidak mudah tapi anda berhasil melaluinya. Tidak heran, The Suitcase Kids memenangkan salah satu penghargaan popular untuk penulis anak. Gaya menulis tiap bab-nya dibuat urut sesuai dengan alphabet, unik bukan?

Back to story! Andy adalah seorang anak yang dibesarkan di 2 keluarga (masing-masing adalah keluarga ibu dan ayahnya setelah bercerai). Ditemani seekor Radish, Andi melalui masa-masa buruk pertengkaran dan berkali-kali konseling keluarga. Hari buruk itu dating, orang tuanya bercerai dan meninggalkan semua yang pernah dimiliki Andy sebagai kenangan. Karena Andy masih terlalu kecil dan takut untuk memilih pilihan paling sulit antara tinggal bersama Ayah Atau Ibunya, maka sebagai penyelesaian Andy tinggal bersama keluarga baru ibunya satu minggu lalu minggu berikutnya ayahnya kan menjemput untuk tinggal bersamanya dan keluarga baru ayahnya. Dari laki-laki yang dinikahi ibunya Andi punya tiga saudara tiri sedangkan dari keluaga baru ayahnya Andi punya saudara tiri kembar. Bukankah tidak mudah untuk berbagi segalanya?

Tapi, yang paling sulit untuk Andy adalah menghapuskan kenangan bahwa dia pernah bahagia tinggal bersama di sebuh rumah bersama ayah-ibu –radish dan dia seorang. Ketika pie blackberry yang dipanggang ibunya begitu lezat.

The Lottie Project

Tidak se-sedih dua cerita sebelumnya, The lottie project terasa lebih membakar semangat. Karena belum tuntas membaca, gambaran singkatnya adalah tentang seorang anak perempuan bernama Charlie yang sedang dalam proyek mengerjakan tugas Victorian History dan mengambil sudut pandang seorang anak perempuan yang terpaksa bekerja sebagai nanny di rumah orang kaya. Pada saat yang sama, Charlie yang tinggal dengan ibunya mengalami masalah ekonomi karena perusahaan dimana Joe (ibu Charlie) bekerja bangkrut dan mem-PHK semua karyawan. Tidak ingin kehilangan tempat tinggal layak yang mereka berdua perjuangkan dan tidak mau kehilangan harga diri karena harus kembali bergantung ke orang tua Joe, joe menerima beberapa pekerjaan sekaligus sebagai day cleaner dan seorang Nanny. Charlie pun membantu Joe dengan mengiklankan dirinya sebagai “pesuruh” dan apa pun yang bisa dikerjakan oleh anak kelas 6 SD. Seru sekali (tapi belum selesai)

Kalau sudah mulai baca novelnya Jackie satu saja, bakalan susah untuk menolak yang lainnya. Dan buat yang suka banget sama dunia anak, psikologi anak dan keluarga. Buku ini yummiiee!!! Gimana enggak Yumiie, 70 tahun sudah usia Jackie, bayangkan apa yang telah dia lalui dan dedikasinya demi anak-anak diseluruh dunia lewat buku cerita.

 

 

Norwegian Woods: Haruki Murakami

Ini resensi pertama saya dari beberapa buku yang say abaca belakangan. Penting untuk mengatakan ini diawal agar nantinya, pembaca maklum jika resensi saya kurang mengena. Tapi, baik juga kan untuk mencoba meresensi buku asing dengan level lumayan njelimet seperti karya Haruki Murakami satu ini.

Entah dari mana saya kenal nama penulis satu ini—seingat saya dari web yang menjual buku murah–, tapi nama ini dan beberapa karya nya terus menggema di kepala saya dengan judul: beli enggak ya? Beli enggak ya? Akhirnya, ketika suatu hari saya sedang menunggu penerbangan dari Jakarta ke Surabaya, karena bosan dan kalut, kaki saya begitu saja masuk ke dalam kios buku bandara yang sudah jelas tidak menawarkan buku murah. Perbedaan took buku di bandara dengan yang biasanya, tentu saja, sebagian besar novel yang dijual ditulis dalam versi bahasa inggris. Dari banyak buku yang saya taksir, akhirnya keputusan pertama jatuh pada “All The Light we Cannot See”-nya Anthony Doerr. Lalu, sebuah buku mungil bersampul kuning karya Haruki Murakami. Saya sendiri sanksi dengan keputusan membeli buku ini, jangan-jangan tak beli karena sampulnya kuning. Begitulah, kemudian saya membuka lembar demi lembar buku ini.

Murakami, menulis dengan gaya flash back, dimana tokoh utama Toru Watanabe memiliki kenangan kuat tentang perjalanan hidupnya dengan seoang Perempuan bernama Naoko. Kisah cinta? Iya. Jangan kecewa dulu, disinilah menariknya. Di point cerita cinta inilah Murakami menunjukkan kecerdasannya, sebab dia berhasil merangkai kisah cinta seorang Toru (yang normal) dengan Naoko (penderita mental disorder) dengan apik. Saya tertarik dan sanggup menuntaskan novel ini dalam waktu dua hari karena terhisap masuk dalam dimensi naoko. Yup! Sama seperti Toru yang tidak bisa melepaskan ingatannya tentang sosok Naoko. Kenapa Naoko begitu istimewa?

Ditulis dengan latar belakang tahun 1960, ketika Jepang mengalami masa transisi menjadi Jepang yang lebih modern, Murakami menyampaikan dengan lembut bahwa sejak masa itu tekanan yang dialami generasi muda jepang sungguh luar biasa. Dikisahkannya kakak Naoko—gadis berprestasi bintang sekolah—yang gantung diri tepat saat akhir tahun masa SMA-nya dengan hanya satu tanda depresi ringan yang diabaikan orang tua (kakak naoko selalu tidak masuk sekolah saat menstruasi karena depresi). Naoko kecillah yang menemukan kakaknya pertama kali di kamar dalam keadaan tewas tergantung seperti penari ballet. Lalu, hal tragis ke-dua yang dialami Naoko dan Toru bersama-sama adalah tewasnya kekasih Naoko yang juga sahabat Toru (bunuh diri dengan menyalakan mobil di dalam ruangan). Tidak lama setelah kematian kekasih Naoko, Toru adalah satu-satunya teman yang dimiliki Naoko ketika kuliah (meskipun keduanya kuliah di universitas berbeda). Namun setelah satu kejadian dimana Naoko dan Toru berhubungan intim untuk yang pertama kalinya, Naoko tiba-tiba menghilang.

Jalinan cerita yang dibuat apik dan menyentuh merupakan kekuatan novel ini. Konsistensi Toru dan Naoko untuk membantu kesiapan mental Naoko hidup di dunia social masyarakat pada umumnya dibantu Reiko Ishida (yang juga mengalami mental disorder) mengalun lembut namun mengguncang emosi. Tokoh “normal” lainnya juga ditampilkan denga cerita yang segar seperti kisah cinta Midori Hatsumi yang mati-matian menyukai Toru.

Setelah tuntas membaca novel ini, perasaan jadi terkuras habis. Kenapa? Disitulah kepiawaian seorang penulis mendapat tempatnya di hati pembaca. Begitulah novel ini menjadi salah satu novel kontemporer yang hits dikalangan remaja jepang.

Tentang Norwegian wood sendiri, sebenarnya adalah lagu dari grup music legendaries the beatles. Begini liriknya:

Once, I had a girl

Or shoud I say, she once had me

She showed me her room

Isn’t it good? Norwegian wood..

She asked to sit anywhere

But I noticed there wasn’t a chair

So, I sit on a rug, biding my time dringking her wine

We talked until two, and then she said “it’s time for bed”

She told me she worked in the morning

And started to laugh

I told her didn’t

And crawled off to sleep in the bath

And when I awoke

I was alone

This bird had flown

So I lit a fire

Isn’t it good Norwegian wood,,

Mrs. Injury Time

strona2

 

Siang ini saya mengingat seseorang. Namanya I wayan Parwadi. Seorang wali kelas yang juga guru fisika di SMP dulu. Saya mengingat beliau setelah ngos-ngosan bolak balik dari unit ke rumah sampai ke KFO (kantor fungsional operasional).
Berawal dari meninggalkan suami dan anak di rumah, saya berangkat lebih awal ke unit yang hanya butuh 10 menit perjalanan via motor. Jam 8 kurang 5. Saya girang karena bisa dating sedikit lebih awal dari yang dikatakan tepat waktu, baru mulai memutuskan memulai rapat pagi untuk over view pendampingan uit, satu karyawan belum dating dan yang lain memutuskan untuk menunggu sebab ybs tidak pernah terlambat. Sudah lebih dari 30 menit menunggu, rupanya kali terlambat juga, rapat dimulai. Usai meeting saya, agenda dilanjutkan dengan beberapa kegiatan urgent tim bisnis sampai pukul 10.05. Tepat pada saat saya melihat waktu di monitor lap top saya teringat anak dan suami di rumah. Tidak ada susu formula yang tersimpan di rumah sebab sehari-hari si kecil hanya diberi susu formula jika di bawa ayahnya ke toko. Sambil minta ijin ke ATM, saya sempatkan memebli susu kaleng dan mengantarkan ke rumah. Pintu samping rumah terbuka, tapi tidak ada tanda-tanda suami dan anak saya. Celingak-celinguk di sekitar rumah—barang kali si kecil dibawa ayahnya ke warung belakang kompleks—nihil. Saya kembali kedalam rumah, memastikan beberapa barang seperti kamera yang setiap hari menjajari koleksi buku masih ada, menelusuri kamar belakang sampai gudang dan memastikan tidak ada seseorang atau kucing tetangga yang tertinggal di dalam. Saya bergegas kembali ke unit menjemput OJT (2 minggu ini saya menghandle satu OJT dari banyuwangi). Lalu memacu kendaraan ke toko suami. Taraaa….. si kecil baru reda dari tangisnya, minta disusui. Naluri ibu mana yang kuasa menolak? Meski niatnya hanya mengambil kunci rumah dan mengantarkan susu formula.
Dan setelah sekitar setengah jam saya menemani anak saya, cuss… ke KFO tapi harus mampir ke rumah untuk cek lagi sebelum mengunci pintu. Sampai di KFO jam 10.45 dengan gembira, hingga tiba di ruang bersama sudah ada dua rekan kerja yang bermuka tegang. Tambah bingung dan tegang melihat saya bungah.
Rekan A: “Mbak Devi sudah selesai?”
Saya: “Sudah mbak, tadi pagi Cuma over view”
Rekan B:” refreshmentnya sudah?”
Saya:” haaaa….. “
Mereka panik seketika. Rekan A bilang sudah menghubungi ojt saya untuk mengingatkan saya supaya buka email, lalu di hp ada rekan kerja di kabupaten tetangga yang sudah berkali-kali telepon dan akhirnya sms juga dengan all caps lock isinya” MBA, ADA REFRESHMENT”.
10 soal perbankan syariah, 15 menit. Bukan sombong tapi ini bakat khusus mengarang indah. 2 rekan yang sudah sejam setengah mengerjakan melongo, sempat ditawari contekan juga. Akhirnya lega setelah email jawaban terkirim ke manaher dan head. Mereka sakit mata karena membaca huruf cacing? Pasti. Dan bukan Cuma sekali. 😀
Seingat saya, waktu juga yang menjadi alasan kenapa di assessement manajer lalu saya dinyatakan tidak lebih siap dari salah satu kandidat. Ya, ketika yang lain sudah stand by jam 8, saya dengan sangata tepat waktu dating jam 9. Sesuai jadwal dimulainya tes pertama. Barangkali itu juga yang membuat head saya ill feel. Lalu mengirim laporan mingguan di detik-detik terakhir juga disinggung manaher sebagai salah satu sebab saya harus mengulang assessment (catatan: jika diberi kesempatan lagi tentunya).
Apakah dengan mengirim laporan di detik-detik terakhir membuat saya menjadi orang yang malas? Tidak. Atau orang yang sangat panic? Sama sekali tidak. Tapi, yang terlibat dengan saya tidak mungkin tidak membuat penilaian tentang bagaimana saya menghandle waktu terutama waktu kerja. Di setiap unit, saya selalu bilang dengan serius: SAYA TIDAK SUKA LEMBUR. SAYA TIDAK MAU BEKERJA DI LUAR KESEPAKATAN DENGAN PERUSAHAAN. Sebagai imbasnya, tentu, jangan menghambat pekerjaan saya hehe… 8 jam dalam sehari dengan satu jam istirahat siang untuk ishoma. Dengan target yang tidak sedikit, setiap menitnya sangat penting. Apalagi jika sudah berkeluarga seperti sekarang. Tiap menit adalah hasil yang terukur (serius sekali? Iya, karena laporan audit juga bukan hal yang sepele. Semakin serius ya? Haha..).
“Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri” itulah yang dikatakan I wayan Parwadi yang juga guru Fisika pertama saya yang pasti telah lama bergulat dengan teori relativitas Einstein. Benar kita disediakan 24 jam dalam sehari tapi masing-masing bergerak menggunakan waktunya sendiri-sendiri. Saya dengan waktu dan kegiatan saya, Anda dengan waktu dan kegiatan anda. Meski Pak Wayan menambahkan kalimat perfeksionis dimana waktu yang kita pergunakan menentukan hasil yang kita dapatkan, tetap saja, tidak perlu menggunakan jam tangan orang lain untuk memiliki satu hari kita sendiri. Hari ini? Saya sudah selesai dan memasuki timeless moment bersama anak dan suami. See You again Monday!

Selamat Tahun Baru dan Selamat Datang MEA

 

 

happy-new-year-2016-wallpaperBagaimana tahun baru anda? Seronok? Gempita? Beragam perayaan yang bisa kita saksikan sebagai symbol penyambutan tahun yang baru. Mulai dari perayaan artificial sejenis terompet, kembang api, lampu pijar dan sorak sorai menyambut awal hari yang bisa jadi para penyambutnya ini memulai dengan bangun kesiangan setelah konvoi atau nobar semalam suntuk. Awal yang bagus untuk memulai? Bisa jadi, sebab hanya terjadi setahun sekali ketika kantor membolehkan masuk setengah hari. Di lain pihak, ada juga yang sejak jauh hari telah menyiapkan rentetan tulisan berupa resolusi untuk dicapai di tahun yang baru. Seperti awal dari semua hal, para pembuat resolusi yakin dan senang menyambut suatu “awal” dimana banyak impian bisa lagi diprogreamkan untuk diwujudkan dalam satu putaran tahun yang akan berjalan. Tidak ada yang buruk dari membuat resolusi, bahkan tulisan di secarik kertas atau angan-angan ini mampu membangkitkan semangat untuk kembali lebih produktif dan meningkatakn kualitas hidup. Sejatinya seperti itu bukan tujuan kita membuat resolusi, bukan hanya sekedar tulisan untuk menghapus target tahun lalu yang belum sempat terlaksana atau bahkan justru menambahi eban hidup kita.
Lantas, apa rencana baru anda di awal tahun yang baru? Bisa jadi, punya pasangan hidup yang baru, mobil baru, rumah baru, atau masih menambal sulam resolusi tahun lalu “untuk hidup yang lebih baik”? tidak masalah, sebab tidak semua hal harus dicapai seluruhnya dalam satu tahun. Karena bagi saya sendiri, resolusi tahun ini adalah kelanjutan dari proses hidup tahun lalu. Apa yang belum selesai diselesaikan, apa yang masih jauh dikejar lagi. Namun jika tidak ingin tergeser atau bahkan tertinggal di lomba marathon ambisi, tahun ini sebaiknya kita mulai bersegera. Sebab apa? Di tahun 2016, Indonesia telah membuka pintu perdaangan bebas untuk kawasan Asia Tenggara yang selanjutnya kita sebut sebagai MEA (Masyarakat Ekonomi Asean/Asean Economic Community), dimana salah satu indicator penting dari MEA adalah perdagangan bebas di Negara-negara yang ada pada satu kawasan dan berkembangnya masyarakat yang mandiri terutama secara ekonomi. Bisa kita bayangkan bagaimana strategisnya Indonesia sebagai pangsa bagi industry dari Negara-negara tentangga yang luas wilayah dan jumlah penduduknya belum menandingi Indonesia. Diperkuat lagi dengan dihapuskannya non-zero tax untuk Negara yang meratifikasi hasil pertemuan di Malaysia akhir tahun 2015 yang lalu, tentu harga barang yang beredar akan bisa lebih murah. Salah satu keuntungan di pihak Indonesia memang adalah jumlah penduduk yang tinggi sebab akan meningkatkan arus perputaran uang dengan adanya berbagai pembelian, tapi jika tidak diimbangi dengan produktivitas yang sama, tentu bukan indikasi yang baik.
Salah satu tujuan dibukanya MEA adalah tentu saja untuk meningkatkan pertumbhan ekonomi di Negara-negara satu kawasan yang salah satu caranya memang harus dengan “paksaan” untuk berani berkompetisi. Disemu abiding, Indonesia tidak boleh segan dan harus mulai berani untuk mengandalkan produk dalam negeri. Misalnya untuk pangan, mungkin diversifikasi pangan pokok bisa dimulai tidak hanya di Indonesia bagian timur agar kita tidak lagi terlalu bergantung pada impor beras. Kemudian di sector kelautan misalnya, selain penegakkan hokum laut tentu masyarakat pesisir juga sangat membutuhkan agen distribusi hasil laut yang sehat dan mampu menawarkan harga beli hasil tangkapan yag dapat membantu kesejanteraan para nelayan. Struktur dan infrastruktur perlu lagi dibenahi, serta tidak lupa sumber daya manusianya. Bayangkan jika pemerintah sudah menggelontorkan milyaran rupiah untuk memeperudah jalur distribusi tapi masih saja ada oknum lintah darat, bagaimana?
Tidak perlu takut untuk bersaing, Orang lama bilang “the power of kepepet” itu tidak bisa diabaikan. Bayangkan kita begitu kepepetnya tapi harus bisa beli ini dan itu, bisa meraih ini dan itu, tentu menabung bukan solusi tapi bagaimana membuat putaran uang menjadi pusaran yang lebih besar bisa jadi jawaban. Memulai atau mengembangkan usaha adalah solusi efektif di tengah krisis. Semakin hebat tekanannya, maka semakin handal seorang melakukan pengendalian diri dan memicu setiap lobus di otaknya untuk memunculkan ide kreatif yang harus segera dieksekusi. Intinya, jangan takut sebelum memulai. Jangan malu juga. Bersemangat. Sebab siapa yang semangatnya paling besar , sebenarnya telah memenangkan pertadingan sebelum start.

Refleksi Sederhana –calon- Orangtua

baby and mom

Terlampaui sudah tri mester pertama yang melelahkan dari jatah 9 bulan 10 hari masa mengandung manusia. Hampir menyentuh 6 bulan di 2 minggu ke depan. Tidak bisa melihat setiap hari memang, sebagaimana seperti yang saya suka tonton di film dokumenternya BBC tentang human birth, betapa ajaibnya dua sel yang secara kontinyu di produksi manusia dewasa (yang jika tidak terjadi pembuahan hanya berakhir di tempat pembuangan semata) mengalami tahapan menakjubkan ketika lebur menjadi satu. Tidak mungkin tidak, setiap perempuan yang mengalami masa kehamilan tidak berkeinginan meraba dan merasa apa yang tengah terjadi di alam di bawah kulit perut yang menjadi semesta awal bagi semua pengetahuan yang akhirnya akan dicapai seorang manusia. Di dalam rahim, seperti sup nebula di jagat raya, proses-proses indah dari hanya dua inti terkecil manusia yang bertemu bisa menjadi milyaran sel yang akhirnya menjadi jaringan dan organ-organ yang secara sangat ajaib bisa mengkoordinasikan diri menjadi keutuhan, menjadi tempat menyimpan semua pengalaman, serta menjadi sebuah pergerakan baru yang nyata diantara manusia lainnya.
Orang bilang, manusia kecil ini mulai semakin terasa dan semakin nyata kehadirannya di dunia setelah bulan ke empat. Tepat setelah beberapa organ vital dasar yang dibutuhkan manusia mewujud sempurna sesuai fungsinya. Lalu, secercah pengetahuan yang dibagi lewat dunia maya juga memberi tahu perempuan tanpa pengalaman ini bahwa manusia kecil yang dia bawa di dalam rahimnya mulai mendengar dan bereaksi ketika usia 6 bulan. Dan sampai saatnya tiba, saya rasa saya semakin bisa merasakan bagaimana dia bukan lagi entitas asing dari dua sel kasat mata melainkan manusia yang bergerak, merespon, dan mulai mempunyai keterikatan paling sederhana dengan saya sebagai sesama manusia. Sebagai ibu dan anak tentunya.
Menjadi Ibu. Begitu seharusnya tajuk tulisan ini saya buat. Isinya long-listing-everything-needed dalam melakoni peran baru yang –insyaAlloh-akan tiba dengan lebih nyata. List ini jika ditulis mungkin akan sangat panjang dan perlu banyak sekali kolom-kolom untuk memisahkan jenis-jenis persiapan menjadi ibu. Tapi saya tidak pandai membuat list semacam list blanja yang akan disetor ke suami atau harus dilakukan secara rutin. Termasuk sepertinya untuk keperluan pasca melahirkan. Lantas, yang akhirnya saya coba jangkau adalah apa-apa saja yang sekiranya terjangkau pikiran saya. Lalu payahnya Cuma ada dua: materi dan yang selain materi.
Banyak sudah liteartur yang membahas tentang keduanya, baik secara gamblang maupun tersirat. Jadi kalau ingin melihat detail apa saja yang membahas tentang keduanya, sangat mudah, semudah menekan sekali atau dua kali klik. Tentang materi, begitu terlahir satu manusia, seolah-olah semua pabrik penyedia barang kebutuhan manusia baru sudah bersekongkol untuk membuat paket kebutuhan itu memang harus ada (baca: harus dibeli) dan harus dipersiapkan. Benar memang, tapi kalau kemudian membuat kita bertekuk lutut pada konsumerisme atas nama rasa cinta dan kasih sayang ke anak, apa masih baik? Yaah silakan dijawab sendiri yaa… 🙂 Jelasnya, tidak ada kekuatiran tertentu pada diri saya mengenai kebutuhan-kebutuhan ini, selama ini memang kebutuhan lho yaa… bukan yang dibutuh-butuhkan.
Membayangkan cerita orangtua saya yang waktu saya lahir belum punya pendapatan tetap yang memadai sehingga hanya berbekal tekad untuk melahirkan anak dan uang seadanya pun tetap bisa memberikan nilai lebih selain selimut lembut berharga mahal yang tidak pernah ada dalam cerita. Bapak waktu itu pun tidak membawa sehelai kain untuk berjaga-jaga. Akhirnya, proses melahirkan saya benar-benar sangat sederhana. Termasuk kemudian cerita Bu lek dan Mbah yang membantu pengasuhan. Jauh dari kesan mewah dan mahal. Secara waktu itu penghasilan rutin Bapak adalah dari sukwan di SMP dan ibu masih membantu orangtuanya mengolah sawah. Saya yakin, Ibu saya sampai sekarang tidak tahu ada benda bernama stroller. Perlengkapan bayi ala Beliau hingga sekarang masih setradisional gedong, guritan, popok kain dan jarik warna merah berbatik naga. Sesederhana itu kira-kira barang kebutuhan bayi yang saya pelajari.
Lain lagi kalau membahas yang non-materi. Ini seperti menelan pil pencahar. Bisa mulas kalau tidak menemukan jalan keluar yang memang tidak “segampang dan segamblang” melahirkan itu sendiri. Belakngan saya mulai membatin dengan manusia kecil di dalam rahim. Apakah mengajarkan kebaikan saja sudah cukup untukmu kelak? Atau kamu mau belajar lebih ber-agama? Apa yang membuatmu berkecukupan untuk menjadi manfaat bagi semesta dan bagi sesama? Cukupkah kasih sayang dan cinta itu sendiri sebagai bekal? Ataukah sya harus membekalimu dengan hal-hal logis dulu sambil menyuapi dengan kasih sayang? Saya pernah punya kekuatiran berlebih soal memandikan bayi baru berusia hari, mengurusnya sendiri dan membuat perawatan di hari-hari awal pasca persalinan telah benar. Tapi itu tidak seseram ketika berpikir tentang nilai hidup mana yang akan saya pelajari bersama dia.
No defense. Cuma bicara jujur di tulisan ini. Mungkinkah saya mengajarkan dia seperti saya mengajari diri saya sendiri tentang nilai? Berjalan, berputar, tersesat, kembali ke titilk nol, dan mulai lagi? Seperti siklus meski pada setiap nilai mengajarkan kebaikan. Atau mungkin, kembali ke satu agama yang utuh adalah pencerahan? Seperti yang selalu saya dambakan. Iya, kembali melakoni dengan utuh islam sebagai agama juga nilai yang saya pilih sendiri (lepas dari memang saya dilahirkan di keluarga islam), sehingga kelak jika pun manusia kecil ini memilih jalan lain dia masih punya rumah untuk selalu pulang.
Kemudian, siapkah saya dan suami dengan jalan ini? Memaksa diri untuk bisa, lebih baik dari pada menghindar karena takut akan suatu komitmen, bukan? Kita memilih menjadi orang tua tapi kita tidak memilih untuk bertanggungjawab. Agama bukan jalan yang mudah dan murah, kita coba mulai dengan ikhlas yaa…
P.S Ibu dan Bapak menunggumu manusia kecil penggemar music patrol ala ramadhan.